Category archive

Analisa Fundamental

Emiten Beton berburu kontrak baru

JAKARTA. Emiten beton memburu kontrak-kontrak baru dari proyek infrastruktur pemerintah. Hal ini dapat terlihat dari target yang ditetapkan, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menargetkan kontrak baru senilai Rp 6,3 triliun, sedangkan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) membidik kontrak baru senilai Rp 12,3 triliun.

Sekretaris perusahaan WTON, Puji Haryadi menyampaikan, sampai saat ini kontrak baru yang berhasil didapatkan yakni senilai Rp 1,5 triliun. Capaian tersebut setara dengan 24% dari target pendapatan sepanjang 2017.

Puji memaparkan beberapa proyek besar yang berhasil didapatkan oleh WTON diantaranya yaitu proyek LRT (Light Rail Transit) Jakarta, proyek MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta, ada juga proyek jalan tol Balikpapan – Samarinda dan proyek jalan tol Bogor Outer Ring Road (BORR). “Itu beberapa proyek besar yang berhasil didapat,” ujar Puji kepada KONTAN, Jumat (24/3).

Selain itu, ada juga beberapa proyek lainnya yang berhasil didapat seperti jalan laying kereta api Medan, proyek jalan tol Medan – Binjai, proyek jalan tol Surabaya-Gempol. Puji menargetkan kontrak baru berikutnya diharapkan datang dari proyek PLTU Batang dan PLTU Cilacap.

Selain proyek-proyek itu ternyata WTON juga mendapatkan proyek kereta api cepat Jakarta – Bandung namun, proyek ini masih dalam proses persiapan. “Untuk kereta cepat Jakarta – Bandung, WTON masih menunggu desain pihak kontraktor antara WIKA dan kontraktor China,” paparnya.

Untuk mendukung itu, tahun ini WTON menyediakan capital expenditure (capex) senilai Rp 680 miliar. Anggaran ini akan digunakan untuk mengganti peralatan dan meningkatkan kapasitas pabrik, terutama pabrik di daerah Subang, Jawa Barat. Rencananya pabrik ini akan diperluas lahannya sampai 20 hektar.

Sementara Direktur Utama WSBP, Jarot Subana menyampaikan sampai saat ini pihaknya sudah mendapatkan kontrak baru senilai Rp 4,4 triliun. Capaian tersebut setara dengan 36% dari target yang ditetapkan sepanjang tahun 2017 yakni senilai Rp 12,3 triliun.

Dia juga memaparkan beberapa proyek besar yang berhasil didapat oleh WSBP di antaranya yaitu proyek tol Legundi – Bunder, proyek tol Jakarta – Cikampek, proyek tol Pematang Panggang – Kayu Agung dan tol Kayu Agung – Betung. “Di bulan April dan Mei aka nada dua proyek besar lagi,” kata Jarot.

Tahun ini, WSBP menganggarkan capex senilai Rp 1,9 triliun. Anggaran ini Rp 1,1 triliun akan digunakan untuk membangun dua pabrik baru di daerah Kalimantan dan Sumatra utara dan sisanya akan digunakan untuk menambah 42 batching plant.

Sumber Kontan.co.id

Dari Berita diatas saya mengambil kesimpulan bahwa saham WSBP lebih murah dari pada saham WSBP secara nilai Valuaisi saham nya

Buy WSBP <520

TP Mid term 600

TP long term 900

Samuel Tanjung

Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), Layakkah Menampung Pisau Jatuh?

Trading Strategy: 

BUY LEVEL: 280  TP: 300 – 320 SL: 270 – 260

Jika kita melihat chart diatas, kita bisa melihat sejak awal February 2017, SRIL mengalami kenaikan yang sangat tajam, yang disertai dengan penurunan yang tidak kalah tajam juga pada bulan Maret ini. Sekarang pertanyaannya, apakah SRIL bisa menjadi target beli kita jika kita melihat dari sedikit dari sisi fundamental perusahaan?

A bit on background:

Sri Rejeki Isman Tbk adalah perusahaan tekstil terintegrasi yang memproduksi benang tenun, kain jadi, pakaian, tenda serba guna, selimut, handuk, sampai dengan pakaian militer.

Jika kita melihat dari income statement SRIL, bisa dilihat kalau net income perusahaan mengalami kenaikan sebesar 6.6% menjadi $59.36 juta (so, penurunan tajam yang terjadi bisa saja disebabkan oleh kenaikan laba yang tidak sesuai dengan ekspektasi). Tetapi, on the bright side, this slight increase in earning juga disertai dengan net profit margin yang meningkat:

Dari segi produk, SRIL merupakan pemasok garment dan tekstil untuk pakaian yang mungkin sering kita beli sehari hari, on a special note, saya sangat encourage para investor untuk membeli saham yang kita sendiri pernah beli produknya, so that we can gauge the quality and even the brand power of the company. Demikian salah satu contoh product line dari SRIL pada divisi fashion garment:

Indonesia merupakan salah satu negara dengan upah minimum yang paling kecil, jika kita melihat dari data dibawah ini, Indonesia adalah yang kedua setelah Bangladesh (maka jangan heran jika ketika anda jalan-jalan di fashion store such as H&M, anda bisa melihat label “made in Indonesia”, “made in Bangladesh” atau bahkan “made in Turkey”:D). Dengan meningkatnya upah buruh di China dan banyaknya issue mengenai buruh di Bangladesh, kini Indonesia menjadi tujuan investasi yang lebih menarik bagi produsen.

Export tekstil Indonesia juga mengalami peningkatan yang yang bisa kita lihat kenaikan CAGR pada 2010 – 2015 yang mencapai 7.9%, yang meningkat cukup banyak jika dibandingkan dengan periode 2002 – 2015 yang “hanya” sebesar 4.6%. 

Perusahaan juga memperbesar sales area ke pasar Asia, yg meningkat dari 24% menjadi 33%. 

All in all, dengan laba yang bagus dan prospek bisnis yang semakin bagus kedepannya, penurunan harga SRIL bisa menjadi kesempatan yang baik untuk investor mulai mengakumulasikan saham, maupun trader yang ingin memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan profit dalam jangka pendek. So, what are you waiting for? 

*Disclaimer always kelap kelip =D 

My Trading Strategy

Hi, Welcome to Frank’s Corner! for this introduction article, I will write briefly about my trading strategy, so that on the next article, you can get a better understanding on the perspective on what I am looking at when I am targeting a security.

My trading strategy is somewhat a mix of Fundamental Analysis, Technical Analysis, and Price-Action Analysis.
Let me elaborate a bit on each of the subject. (it won’t be long because I don’t want to bore you with the complexity of each analysis right now :D)

Fundamental Analysis
The function of fundamental analysis in the strategy is to make sure that I have my version of “margin-of-safety” that was popularized by Benjamin Graham (for those of you who don’t know about him, he is the mentor of Warren Buffett). On this fundamental side,  I strongly emphasize on “Catalysts”. Because my strategy is not so long term, so I can’t heavily rely on valuation on the book (and to put things on perspective: we can’t really trust the book by 100% right? The  world can change, things can evolve, so the book, aka financial statement is not the sole determinant of my strategy).

Let’s talk about Catalyst then: it is the thing that can send the price of a securities to the roof in short period of time, things such as new government regulations, company buyout/M&A (Merger and Acquisitions), change of management, and so on and so forth, can be categorized as the catalyst. Now, what we can do is to read a lot about listed companies, and if we are lucky, we can found companies that might be a take-over target!

Technical Analysis
I usually use a Classic Technical Analysis in analyzing the securities that I’m about to buy. So, what is this Classic Technical Analysis? It is the technical analysis that use trendline, volume, and chart patterns, to project the next moves of the bar. It’s a really simple analysis, for me, Technical Analysis should be as simple as possible, because things change on the market, and we have to be super adaptive! If we got paralyzed during the market action because of the confusion caused by our complex analysis, then we are bound to fail. So, my stance is: Classic Technical Analysis is the best tool for taking action in the market.

Price-Action Analysis
By watching the price movement on the our trading screen, actually we can obtain a lot of information regarding the natural support and resistance of any particular stock that we are targeting. It’s a bit hard to tell because it has different outcome on different situation. But if a particular stock is acting fishy, then we might want to observe the price-action in a greater detail, because there might be funds that are accumulating/distributing the stock, thus this can take the price of the stock a lot higher/lower from current price.

So, all in all, this summarized my trading strategy. Feel free to share or ask anything regarding trading strategy, we might learn something new along the way.

 

Cheers!
Frankie, 18th of March 2017
On a Cloudy Saturday Afternoon

 

Trade Recommendation: SIMP (Salim Ivomas Pratama Tbk)

SIMP sudah menembus pola ascending triangle dan sekarang sedang berada di posisi support yaitu pada range 540 – 570. Kami merekomendasikan beli saham SIMP dengan target harga short term pada level 600 – 620.

Jika kita melihat laporan laba-rugi dari SIMP, hasilnya juga menggembirakan, dikarenakan Earning Per Share yang mencatatkan kenaikan lebih dari 100% yang menjadi basis untuk kenaikan breakout pada pola ascending triangle tersebut

SIMP:
Buy Range: 560 – 570
Short Term Target Price: 620
Stop Loss: Below 540

Analisa Saham POWR

POWR (PT. Cikarang Listrindo, Tbk) secara fundamental sangant bagus dengan PER 10.96x , EPS USD 0.0091 (setara RP120). namun secara PBV 2.58 yang menurut saya agak tinggi. namun prospek bisnis saham ini masih sangat bagus, salah satu pelanggan dari POWR ini adalah PT. Mayora indah, Tbk (MYOR)

 

Dan secara technical sudah break out down trend dengan target harga 1500, dan volume untuk akhir2 ini kelihatan sudah mulai sedikit membesar.

harga samah POWR saat ini sudah di bawah harga IPO (Rp. 1500)

Resistance 1  atau Target harga 1: 1395

Resistance 2 atau Target harga: 1450

Resistance 3 atau Target harga: 1500

jangka waktu trading sampai 3 bulan

Cut loss jika turun di bawah 1250

Disclaimer ON

Samuel Tanjung

Analisa LSIP lanjutan

Pada perdagangan semalam PT London Sumatra Indonesia Tbk LSIP ditutup pada level 1510. LSIP masih mencoba untuk melanjutkan kenaikan setelah sebelumnya masih tertekan. Apalagi dengan laporan keuangan perbandingan 2015 dengan 2016 mengalami penurunan laba 4,9%. Penjualan juga mengalami penurunan 8,2%. Penurunan diakibatkan faktor cuaca El Nino yang terjadi pada tahun 2015. Meskipun terjadi penurunan produksi, namun tahun ini diperkirakan produksi dapat kembali membaik. Total area tertanam tahun 2016 mencapai 114.416 hektar. Selama tahun 2016 total penanaman baru kelapa sawit mencapai 625 hektar, penanaman kembali 280 hekatr.

Pada tahun ini diprediksi LSIP akan membagi dividen Rp 30.8 per saham.

 

PT Salim Ivomas Pratama Tbk

PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan produk-produk minyak sawit. SIMP merupakan salah satu anak usaha dari grup Indofood, dengan saham terbesar dipegang oleh Indofood Agri Resources Ltd.

Usaha dari emiten berkode SIMP sangat terintergrasi mulai dari hulu hingga hilir. Selain memliki lahan sendiri dengan jumlah yang luas, SIMP juga memiliki anak usaha yang sangat ternama dan telah lama bergerak di perkebunan sawit yaitu PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), SIMP memiliki saham LSIP sebesar 59,48%. Akuisisi Lonsum oleh grup Indofood terjadi pada tahun 2007. Setelah proses akuisisi teresebut, SIMP mulai berkonsentrasi pada sektor hilir bisnis sawit dan turunannya, dan LSIP berkonsentrasi pada sektor hulu diantaranya penjualan sawit dan crude palm oil (CPO), bibit dan pengembanganan.
Pada tahun 2016, laba SIMP naik 104% menjadi Rp 538,3 miliar. Penjualan naik sebesar 5% menjadi Rp 14,53 triliun, laba bruto naik 11% menjadi Rp 3,45 triliun dan laba usaha juga meningkat 26% menjadi Rp 2,05 triliun. Namun produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti dan CPO pada tahun 2016 mengalami sedikit penurunan masing-masing 13% dan 17%. Meski mengalami penurunan, namun perseroan mencatatkan kenaikan EBITDA (Earnings before interest, tax, depreciation and amortization) sebesar 33%. Ini dikarenakan kenaikan harga komoditas dan juga adanya selisih kurs. Perseroan masih memiliki lahan tanaman belum menghasilkan (TBM) sebesar 44.000 hektar, sehingga produksi sawit di masa yang akan datang masih dapat terus bertumbuh.
Untuk mendukung peningkatan produksi kelapa sawit, perseroan juga sedan melakukan pembangunan tiga Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Dua PKS diperkirakan akan selesai tahun ini, sedangkan satu PKS diperkirakan selesai tahun depan.
Pada tahun ini, pemerintah lebih melanjutkan program B20 yang telah dimulai pada awal tahun 2016 untuk sektor transportasi dan sektor industry, sedangkan untuk sektor pembangkit listrik diharuskan untuk mencampur 30% biodiesel. Peraturan pemerintah B20 adalah peraturan yang mencampurkan 20% bio disel dengan 80% minyak disel standar. Pada tahun ini pemerintah menargetkan konsumsi biodiesel dapat meningkat menjadi 4,6juta kiloliter dengan perbandingan 2,5juta kiloliter untuk menghasilkan campuran yang disubsidi dan 2,1jut akiloliter untuk minyak biodiesel yang tidak disubsidi.
Secara fundamental, perseroan memiliki keuangan yang stabil, dengan pertumbuhan yang terus berlanjut. Diperkiraan perseroaan akan membagikan dividen untuk keuangan tahun 2016 sebesar Rp 6,75 per saham.

PT Tunas Baru Lampung

PT. Tunas Baru Lampung (TBLA), adalah salah satu anggota dari Sungai Budi Group, salah satu perintis industri pertanian di Indonesia yang didirikan pada tahun 1947. TBLA berdiri karena keinginan mendukung pembangunan negara dan memanfaatkan keunggulan kompetitif Indonesia di bidang pertanian. Saat ini, Sungai Budi Group adalah salah satu pabrikan dan distributor produk konsumen berbasis pertanian terbesar di Indonesia.

Anggota lain dari Sungai Budi Group adalah perusahaan publik PT Budi Starch Sweetener & Tbk (Sebelumnya PT Budi Acid Jaya Tbk), pabrikan tepung tapioka yang terbesar dan paling terintegrasi di Indonesia.

Bidang usaha TBLA diantaranya: minyak goreng sawit (PCA)/OLEIN, sabun (sabun cuci, mandi dan krim), minyak inti sawit (PKO), minyak kelapa sawit (CPO), stearin, palm fatty acid distillate (PFAD), sawit dan copra chips/expeller dan pelet, dan terakhir adalah gula.

Pada tahun ini TBLA resmi masuk bisnis pengolahan gula tebu. Pabrik gula yang dibangun perusahaan tersebut pada tahun 2015, telah beroperasi sejak akhir tahun 2016. Perusahaan ini juga mengantongi izin impor gula mentah (raw sugar) sebesar 100.000 ton pada tahun ini. Selama ini bisnis gula Tunas Baru Lampung hanya di sektor hulu, yakni memproduksi tebu yang dijual ke pabrik gula, melalui anak usaha yang bergerak di kebun tebu yakni PT Bangun NUsa Indah Lampung dan PT Adikarya Gemilang. Margin dari transaksi ini terbilang kecil. Dengan memiliki pabrik gula sendiri, perusahaan ini dapat meningkatkan margin keuntungan. TBLA menargetkan bisnis gula ini dapat berkontribusi sekitar 30% dari total pendapatannya. Bisnis gula merupakan bagian dari diversifikasi bisnis yang dilakukan Tunas Baru Lampung. Selama ini, perusahaan itu fokus pada bisnis perkebunan dan pengolahan kelapa sawit.

Perusahaan ini optimistis, bisnis gula bisa menjadi sumber pendapatan baru yang potensial. Apalagi, bisnis gula cenderung stabil dan memiliki pasar yang pasti. Dilihat dari laporan dari perusahaan,  tiap tahun perushaan berhasil mempertahankan pertumbuhan yang positif walaupun dalam keadaan ekonomi yang sedang buruk sekalipun. Selain itu, TBLA memiliki prospek peningkatan produksi komoditasnya karena masih adanya area yang saat ini belum tertanam. Dengan semakin membaiknya laporan keuangan perusahaan, maka pada tahun ini perusahaan diprediksi akan membagikan dividen dengan yield 2,5%. Pada tahun sebelumnya dividen yang dibagikan perusahaan tidaklah terlalu besar karena adanya proyek ekspansi dan pembangun pabrik.

Tantangan yang dihadapi perusahaan diantaranya keadaan cuaca, fluktuasi harga komoditas diantaranya harga CPO, dan makin terbatasnya ketersediaan lahan untuk ekspansi usaha.

Saat ini harga saham TBLA berada di level 1195. Target harga tahun ini diperkirakan berada pada level 1300-1500.

Annual results 2014 2015 2016F 2017F
Sales 6338 5331 6490 7513
Operating Income EBITDA 1028 905 1257 1646
Operating Profit EBIT 795 557 998 1342
Pre-Tax Profit EBT 562 263 795 1132
Net Income 433 197 613 874

*in billion rupiah

 

PERKEBUNAN AREA YG ADA AREA TERTANAM AREA MATANG AREA BELUM MATANG
Kelapa Sawit 17 17 17
Tebu 5466 4116 4116
Kelapa Sawit 8000 7507 7313 194
Kelapa Sawit 5000 2872 1317 1555
Kelapa Sawit 2800 2752 1755 997
Kelapa Sawit 27553
Kelapa Sawit 970 210 210
Kelapa Sawit 2826 145 145
Tebu 3649 3483 3483
Kelapa Sawit 9868 9868 9868
Kelapa Sawit 7958 7284 7284
Kelapa Sawit 4001 3253 2835 418
Nanas 2204
Tebu 4441 1574 170 1404
Kelapa Sawit 2972 1919 1565 354
Kelapa Sawit 9928 8228 6878 1350
Kelapa Sawit 12000 6045 3438 2607
Kelapa Sawit 1500 637 637
TOTAL AREA 111153 59910 42585 17325

*dalam hektar

 

Update Emiten Batubara 2017

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) saat ini merupakan emiten batubara dengan cadangan terbesar dengan cadangan batubara sebesar 3,33 miliar ton. Sedang sumber daya PTBA mencapai 8,27 miliar ton. Di susul oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO) di mana Cadangan ADRO bakal naik dari 1,3 miliar ton jadi 2,6 miliar ton dikarenakan akuisisi saham IndoMet Coal senilai US$ 120 juta.

Prospek batubara di tahun 2017 di perkirakan bagus oleh sejumlah analis, faktor-faktor dan penyebab nya sebagai berikut :

1.Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil batubara terbesar di Dunia

berikut Data Jumlah Produksi, Konsumsi dan Cadangan dikutip dari BP Statistical Review of World Energy edisi ke-64 tahun 2015.

1. China

Jumlah Produksi : 1.844,6 juta ton
Jumlah Konsumsi : 1.962,4 juta ton
Jumlah Cadangan : 114.500 juta ton
Lokasi : Benua Asia

2. Amerika Serikat

Jumlah Produksi : 507,8 juta ton
Jumlah Konsumsi : 453,4 juta ton
Jumlah Cadangan : 237.295 juta ton
Lokasi : Benua Amerika Utara

3. Indonesia

Jumlah Produksi : 281,7 juta ton
Jumlah Konsumsi : 60,8 juta ton
Jumlah Cadangan : 28.017 juta ton
Lokasi : Benua Asia

4. Australia

Jumlah Produksi : 280,8 juta ton
Jumlah Konsumsi : 43,8 juta ton
Jumlah Cadangan : 76.400 juta ton
Lokasi : Benua Australia/Oseania

5. India

Jumlah Produksi : 243,5 juta ton
Jumlah Konsumsi : 360,2 juta ton
Jumlah Cadangan : 60.600 juta ton
Lokasi : Benua Asia

6. Rusia

Jumlah Produksi : 170,9 juta ton
Jumlah Konsumsi : 85,2 juta ton
Jumlah Cadangan : 157.010 juta ton
Lokasi : Benua Eropa-Asia

7. Afrika Selatan

Jumlah Produksi : 147,7 juta ton
Jumlah Konsumsi : 89,4 juta ton
Jumlah Cadangan : 30,156 juta ton
Lokasi : Benua Afrika

8. Kolombia

Jumlah Produksi : 57,6 juta ton
Jumlah Konsumsi : 4,2 juta ton
Jumlah Cadangan : 6.746 juta ton
Lokasi : Benua Amerika Selatan

9. Kazakhstan

Jumlah Produksi : 55,3 juta ton
Jumlah Konsumsi : 34,5 juta ton
Jumlah Cadangan : 33.600 juta ton
Lokasi : Benua Asia

10. Polandia

Jumlah Produksi : 55 juta ton
Jumlah Konsumsi : 52,9 juta ton
Jumlah Cadangan : 5,465 juta ton
Lokasi : Benua Eropa

Seperti yang kita ketahui Indonesia tengah membangun infrastruktur kelistrikan di mana akan di bangun banyak PLTU guna mencapai keperluan listrik di negara kita ini.

Proyek Kelistrikan

Perlu kita ketahui porsi PLTU untuk kelistrikan di negara kita adalah yang paling besar di mana menurut statistik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) persero kapasitas pembangkit jenis ini per Desember 2015 mencapai 21 ribu GW atau setara dengan 40 persen dari total kapasitas pembangkit yang terpasang sebesar 52,9 GW.

Sumber : Databoks

dari data yang ada dapat di simpulkan bahwa kebutuhan akan Batubara untuk ke depan nya akan sangat banyak di karenakan 20 GW dari program kelistrikan 35 GW itu akan di support dari PLTU.

2. Pemangkasan produksi batubara di China juga akan menjadi salah satu dampak yang akan mendongkrak demand batubara di mana China akan tetap mengimpor batubara dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan domestik nya.

3. Di cabut nya larangan Green Energy di AS akan membuka kembali keran ekspor batubara ke AS seiring dengan pembangunan Infrastruktur di AS akan menaikan demand akan batubara.

Berikut Chart Emiten Batubara :

Chart PTBA

Seperti yang terlihat di chart emiten PTBA , beberapa hari yang lalu terjadi penjualan sehingga terjadi penurunan berturut-turut selama seminggu sehingga PTBA pada penutupan kemarin di tutup di harga 10675 di mana merupakan level Support yang cukup kuat.

Rekomendasi Buy on Weakness PTBA
RS 11100
Entry 10700 – 10750
Sp 10380

Disclaimer on

Untuk update emiten lain nya akan di update di postingan berikut nya.Stay tuned, salam PROFITS.

Review saham LSIP

Proyeksi laporan keuangan full year 2016 PT London Sumatera diprediksi akan lebih rendah dibandingkan laporan keuangan full year tahun 2015, penjualan bersih 2016 diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 8% yoy. Net income diprediksi turun 25,5% dari Rp623,3M menjadi Rp464M. Data dari hasil kuartal 3/2016 menunjukkan rendahnya produksi TBS inti dan plasma, TBS yang diproses turun 24,9% menjadi 1.124.296 ton dari 1.496.853 ton. Sehingga, produksi CPO juga turun 26,5% menjadi 253.962 ton dan inti sawit turun 23,4% menjadi 67.214 ton. Walaupun terjadi penurunan produksi, tingkat rendemen minyak sawit dan inti sawit relatif stabil berada level 22,6% dan 6,0%. Produksi karet juga turun 12,8% menjadi 8.067 ton dari 9.250 ton dibandingkan dengan tahun lalu. Penurunan ini disebabkan oleh rencana konversi ke tanaman kelapa sawit di Sumatera Utara. Faktor cuaca El Nino pada semester 1/2016 juga ikut mempengaruhi hasil produksi yang agak menurun 20,7% menjadi 489.176 ton dibandingkan dengan realisasi pada semester I/2015 sebesar 616.509 ton.

Walaupun hasil produksi sepanjang tahun 2016 lebih rendah dibandingkan dengan 2015, namun PT London Sumatera masih mendapatkan berkah dari meningkatnya harga global CPO selama tahun 2016. Peningkatan harga CPO dimotori dengan membaiknya permintaan dan persediaan sawit secara global. Mengutip data dari United State Department of Agriculture (USDA), produksi CPO dunia pada periode 2015/2016 diperkirakan berada pada level 59,4 juta ton, turun 3,63% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, konsumsi menguat 4,28% menjadi 61 juta ton. Dari data tersebut, terdapat selisih defisit sebesar 1,6 juta ton antara produksi dan konsumsi, sehingga memangkas persediaan CPO global. Sentimen ini memberikan dorongan positif terhadap harga CPO.

PT London Sumatera memiliki prospek yang bagus untuk tahun 2017. Harga CPO diprediksi masih akan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan. Selain itu, tanaman sawit milik LSIP saat ini berada pada usia rata-rata 13 tahun dengan komposisi 22% masih di bawah umur 7 tahun. Hal ini mengindikasikan tanaman masih dapat berbuah cukup lama hingga umur produktif sawit sekitar 20 tahun-25 tahun. Selain prospek produksi, neraca keuangan yang sehat memberikan ketahanan emiten dalam menghadapi tekanan perekonomian dunia. Pada akhir kuartal 3/2016, LSIP masih mempertahankan posisi keuangan yang sehat dengan total aset sekitar Rp8,9 triliun naik dari 8,8 triliun dari Desember 2015 serta masih memiliki posisi kas bersih.

Secara umum, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari emiten berkode LSIP ini. Faktor-faktor tersebut antara lain stigma negatif CPO Indonesia di pasar Eropa terkait masalah lingkungan, tren bearish komoditas karet, dan penetapan bea keluar CPO dari Kementerian Perdagangan Indonesia. Pola cuaca La Nina yang menyebabkan hujan lebat pada siang hari juga dapat mengganggu proses penanaman. Tingginya curah hujan pun berpotensi menghambat kegiatan panen, pemeliharaan tanaman, dan proses logistik.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga saham LSIP meningkat 2,91% menjadi Rp1.590. Angka ini menunjukkan harga saham perusahaan sawit ini tumbuh 21,84% dibandingkan dengan tahun lalu. Target harga yang dituju adalah 1.900.

Operational Highlights PP London Sumatra Indonesia:

2013 2014 2015
Crude Palm Oil 396.5 443.1 475.7
FFB¹ Nucleus 1250.4 1341.2 1396.6
Processed FFB 1730 1908.2 2073.8
Palm Kernel 97.7 109.2 123.4
Oil Palm Seed² 24.1 13.8 15.3
Rubber 12.7 13.2 11.7

in thousand tons, except stated otherwise
¹ Fresh Fruit Bunches
² million seeds
Source: PP London Sumatra Indonesia, Annual Report 2015

Financial Highlights PP London Sumatra Indonesia:

2013 2014 2015
Net Sales 4133.7 4726.5 4189.6
Gross Profit 1253.5 1536.4 1115.8
Net Income 769.5 929.4 623.3
EBITDA 1258 1437.3 1116.3
Operating Income 1025.6 1257.5 835.9
Total Assets 7974.9 8713.1 8848.8
Total Liabilities 1645.9 1710.3 1510.8
Earnings per share¹ 113 136 91

in billion IDR rupiah, except stated otherwise
¹ in IDR rupiah
Source: PP London Sumatra Indonesia, Annual Report 2015

Future Forecast Financial Highlights PP London Sumatra Indonesia:

2015 2016F 2017F
Net Sales 4189.6 3818 4839
Net Income 623.3 464 849
P/E Ratio (x) 19.2 25.7 14.1
P/B Ratio (x) 1.6 1.6 1.5

in billion IDR rupiah, except stated otherwise

Go to Top