Category archive

Berita Saham - page 36

BURSA ASIA 24 OKTOBER: Jelang Rilis Laporan Laba, Indeks MSCI Lanjut Turun Hampir 0,2%

Berita Saham by

Bisnis Indonesia, JAKARTA – Pergerakan bursa saham Asia dilaporkan melemah pada perdagangan pagi ini, Senin (24/10/2016), menjelang rilis laporan laba perusahaan global serta penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utamanya.BURSA ASIA 24 OKTOBER: Jelang Rilis Laporan Laba, Indeks MSCI Lanjut Turun Hampir 0,2%

Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,1% ke 139,56 pada pukul 09.07 pagi waktu Tokyo dan kemudian melemah kurang dari 0,2% pada pukul 09.24 pagi waktu Tokyo (pkl. 07.24 WIB).

Seperti dilansir Bloomberg hari ini, lebih dari 350 perusahaan pada indeks Topix Jepang dijadwalkan akan merilis laporan terbaru kinerja kuartalan pekan ini, sementara para analis memprediksikan pertumbuhan laba pada laporan keuangan perusahaan.

Tiga dari empat perusahaan terbesar di dunia dalam hal nilai pasar, termasuk Apple Inc, akan merilis laporannya pekan ini di AS, sedangkan China dijadwalkan akan melaporkan kinerja keuangan empat bank terbesarnya.

“Laba adalah kunci utama bagi para investor. Sementara itu, terdapat sejumlah agenda makro penting yang kembali menahan pasar, termasuk pemilihan Presiden AS bulan depan serta pertemuan The Fed dan ECB pada Desember,” ujar Matthew Sherwood, Kepala strategi investasi Perpetual Ltd.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik 0,05% atau 0,050 poin ke 98,745 pada pukul 08.10 WIB.

Sejalan dengan pergerakan bursa Asia, indeks S&P/ASX 200 Australia sebelumnya dilaporkan melemah 0,9% dan indeks Kospi naik 0,4%.

Tahun depan, TELE membidik penjualan Rp 30 triliun

Berita Saham by

 
Kontan, JAKARTA. PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) membidik penjualan hingga Rp 30 triliun pada tahun depan. Proyeksi ini tumbuh 12,36% daripada estimasi penjualan tahun ini senilai Rp 26,7 triliun.

“Pokoknya pertumbuhannya double digit. Ini tahun keempat kami tumbuh double digit untuk pendapatan dan laba,” ungkap Hengky Setiawan, Komisaris Utama TELE, Kamis (20/10) pekan lalu.

Untuk pencapaian laba bersih, Hengki optimistis TELE bisa meraih laba bersih setara 1,7% dari proyeksi pendapatan. Dengan asumsi pendapatan Rp 30 triliun, maka laba bersih tahun depan ditarget mencTahun depan, TELE membidik penjualan Rp 30 triliunapai Rp 510 miliar.

Demi mengejar target tersebut, TELE akan mengandalkan sejumlah bisnis antara lain penjualan BlackBerry. TELE telah membentuk perusahaan patungan dengan pemegang lisensi Blackberry yang diberi nama PT BB Merah Putih.

Mulai tahun depan, entitas baru ini akan melakukan kegiatan perakitan dan penjualan. “Awal Maret kami sudah mulai launching Blackberry Merah Putih. Kami menargetkan bisa menjual 500.000 sampai 1 juta unit,” ungkap Hengki.

Namun, dia belum bisa menjelaskan berapa kontribusi yang diharapkan dari penjualan Blackberry Merah Putih. Menurut dia, dibandingkan produk lainnya, kontribusi produk anyar ini masih rendah.

Tahun depan, TELE menargetkan penjualan vocer menyumbang 75% pendapatan dan sisanya berasal dari penjualan handset. Belum lama ini, TELE juga merilis obligasi berkelanjutan I tahap II sebesar Rp 700 miliar.

Surat utang anyar tersebut meliputi tiga seri, yaitu seri A senilai Rp 334 miliar dengan bunga 9,15% yang jatuh tempo 370 hari, seri B senilai Rp 256 miliar berbunga 9,5% yang jatuh tempo tiga tahun dan seri C senilai Rp 100 miliar berbunga 10,65% dan jatuh tempo lima tahun.

Meski baru meraih tambahan dana, TELE belum bisa memastikan alokasi belanja modal pada 2017. Hengky hanya mengatakan rencana itu masih dibahas. Hingga akhir Juni tahun ini, TELE baru mengantongi pendapatan Rp 12,89 triliun. Jumlah ini setara 48% dari target tahun ini Rp 26,7 triliun.

Pendapatan Juni 2016 tumbuh 42% year-on-year (yoy). Adapun laba bersihnya tumbuh 26% (yoy) menjadi Rp 229,56 miliar. Harga saham TELE, pada Jumat (21/10) lalu, turun 2,13% menjadi Rp 690 per saham.

Jasa Marga Tbk is a company that operates toll roads in Indonesia

Berita Saham by

I’ve been eyeing on JSMR for quite sometimes now, and I think at current price, the valuation is very attractive to start establish a position in the company.

First of all, JSMR is a State Owned Enterprise (BUMN/ Badan Usaha Milik Negara) of which The Government of Indonesia owns 70% of the shares. One of the positive side of being an SOE, is that the company usually has the privilege for big strategic projects, of which will boost its earnings big time

photo_2016-10-21_09-51-43.jpg
Ownership Structure of JSMR

I especially like it when the company is owned by lots of institutions:photo_2016-10-21_09-51-57.jpg

As we can see from the picture above, the ownership composition of JSMR is as follow:
70% :     Government of Indonesia
15.92%:  Foreign Investors
8.48%:   Indonesian Institutions
4.11%:    Mutual Funds
1.49%:   Retails/Individual Investors

JSMR is a stock that heavily favored by institutions, and only 1.49% owned by retails, which can tell us that the nature of the business is good. If we look closer to the public shares, we can see that more than half of the public shares are held by foreign investor! with 15.92% foreign vs 14.08% domestic. That actually shows us that JSMR is a favorite picks for foreign and institutional investors. And more over, the company is generating recurring income, that is, the revenue that is predictable, stable, and can be counted on in the future with high degree of certainty, thus this kind of company is usually earned higher valuation in terms of Price to Earning Multiples (PE Ratio).

photo_2016-10-21_09-51-52.jpg
The Operating Profit is steadily increasing
photo_2016-10-21_10-21-35.jpg
So is the Equity

I like the fact that the operating profit and  equity is increasing year after year, basically, equity is the shareholder net worth. So we can safely say that the company is worth more now than, say, 2011.

photo_2016-10-21_09-51-46.jpg
JSMR is the market leader that controls 80% of toll road traffic in Indonesia

 

What About the Price?

What makes it more interesting is because the price has been going down for these 2 years, while the earnings/net income is steadily goes up!

photo_2016-10-21_09-51-29.jpg
JSMR Price VS Net Income

 

photo_2016-10-21_09-51-39.jpg
JSMR PE Band

Currently, JSMR is trading at 4500 – 4600 Range, with Trailing Twelve Months EPS at Rp 253, JSMR is valued at 18x PER, which makes it very cheap in terms of the historical valuation, because the Price to Earning Multiple mean is at 24x – 26x, which translate to target price of Rp 6000 – Rp 6600 or around 30% from current price.

If the fundamental is that good, why the price goes down?
There are 2 negative sentiment that drive the price lower:
1. JSMR – Tirtobumi lawsuit, of which JSMR is about to be penalized Rp 1.24 Trillion for the dispute, but JSMR currently apply for Judicial Review on the case. The case happened on February, so I believe the price has already reflect the case.
2. Right Issue, in my opinion, the right issue is not an issue. Why? Because from what I read from the media, the funding and the share issuance is not that much, so its more of the sentiment than the financial damage, and, the issuance of right is to fund JSMR projects, so it is for the company expansion, if succeed, it will be a sentiment booster.

photo_2016-10-21_11-01-23.jpg
Ratio of JSMR Right Issue with current price (Theoretical)

This is a post to let you get more familiar with one of Indonesian Public Company, hope this can be useful to enhance your knowledge about the stock, and the market in general.

If you are interested in this post, please follow our instagram @atmedan

Cheers,

Frankie

 

Disclaimer:
This article is prepared for general circulation and for information purposes only and under no circumstances should it be considered or intended as an offer to sell or a solicitation of an offer to buy the securities referred to herein

Kemana dana rights issue PTPP mengalir

Berita Saham by

 Kemana dana rights issue PTPP mengalir?
Kontan, JAKARTA. PT PP Tbk (PTPP) berniat menggunakan dana hasil penerbitan saham baru atau rights issue untuk memperkuat belanja modal tahun depan. Mayoritas dana untuk membiayai proyek prioritas pemerintah.

Dalam aksi rights issue ini, PTPP membidik dana segar Rp 4,41 triliun. “Sekitar 76% dana rights issue untuk kebutuhan belanja modal proyek infrastruktur prioritas pemerintah,” ujar M Toha Fauzi, Direktur PTPP, dalam keterbukaan informasi ke BEI, Kamis (20/10).

Adapun beberapa proyek yang masuk prioritas pemerintah adalah proyek Terminal Multipurpose Kuala Tanjung, jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, tol Depok-Antasari, tol Balikpapan-Samarinda tol Pandaan-Malang dan jalan tol Manado-Bitung.

Selain itu ada proyek apartemen menengah (MBR Rusunami), Kawasan Industri Kuala Tanjung dan proyek PLTU Meulaboh 2 x 200 megawatt. Sedangkan sekitar Rp 1,06 triliun untuk menggarap proyek infrastruktur lain PTPP.

Tapi Toha tak merinci proyek tersebut. Yang pasti proyek ini tak jauh beda dari proyek prioritas, yakni pembangkit listrik, jalan tol, kawasan industri dan pelabuhan.

Agus Purbianto, Direktur Keuangan PTPP, mengkonfirmasi bahwa dana rights issue Rp 4,41 triliun hanya akan membiayai sebagian belanja modal PTPP pada tahun depan. Anggaran belanja modal PTPP pada tahun 2017 kemungkinan di atas Rp 4,41 triliun.

“Jumlah totalnya masih dalam pembahasan,” kata dia ketika dikonfirmasi KONTAN.

Sebelumnya, Direktur Utama PTPP Tumiyana pernah mengatakan mulai tahun depan PTPP mengalokasikan belanja modal berkisar Rp 14 triliun hingga Rp 18 triliun. Hingga pekan kedua Oktober 2016, PTPP meraih kontrak baru Rp 24,3 triliun. Jumlah ini setara 78,39% target kontrak baru tahun ini senilai Rp 31 triliun.

“Kami optimistis dapat melampaui target kontrak baru yang sudah ditetapkan,” ujar Tumiyana dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, kemarin.

Sejumlah kontrak baru yang diperoleh adalah dua ruas tol masing-masing Rp 3 triliun dan Rp 2,7 triliun, PLTMG Lombok Peaker berkapasitas 130 MW-150 MW senilai Rp 1,42 triliun, Makassar New Port Paket B & C Reklamasi Rp 891 miliar, Mobile Power Plant 500 MW Rp 739 miliar yang berada di delapan lokasi, pembangunan Gedung BNI Tower Rp 714 miliar dan sejumlah proyek lainnya.

Harga saham PTPP kemarin ditutup menguat 0,24% menjadi Rp 4.210 per saham. Sejak awal tahun ini, harga PTPP sudah menanjak 8,65%.

Minyak anjlok, Wall Street ikut terseret

Berita Saham by

NEW YORK. Pasar saham Amerika Serikat (AS) tadi malam (20/10) berakhir di zona merah. Mengutip data CNBC, pada pukul 16.00 waktu New York, indeksDow Jones Industrial Average turun 40,27 poin atau 0,22% menjadi 18.162,35. Saham Travelers mencatatkan penurunan terbesar dan American Express menghuni posisi top gainers.

Sedangkan indeks S&P 500 turun 2,95 poin atau 0,14% menjadi 2.141,34. Sektor telekomunikasi mencatatkan penurunan terdalam di antara 10 sektor lain. Sedangkan sektor kesehatan merupakan satu-satunya sektor yang berhasil naik.

Adapun indeks Nasdaq turun 4,58 poin atau 0,09% menjadi 5.241,83.

Dalam setiap empat saham yang turun, terdapat tiga saham yang naik di New York Stock Exchange. Volume transaksi perdagangan tadi malam melibatkan 777,17 juta miliar dan volume transaksi saham gabungan mencapai 3,267 miliar saham.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasar saham tertekan. Pertama, anjloknya harga minyak dunia. Sekadar informasi, harga minyak West Texas Intermediate untuk pengantaran November turun 2,27% menjadi US$ 50,43 per barel. Sehari sebelumnya, harga minyak bertengger di posisi tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Penurunan harga minyak terjadi akibat aksi profit taking.

“Kami rasa saat ini harga minyak berada di kisaran US$ 40 hingga US$ 60 per barel. Kami tidak melihat adanya katalis bagi minyak untuk bergerak lebih tinggi,” jelas Jon Adams, senior investment strategist BMO Global Asset Management.

Kedua, investor juga mengamati data ekonomi AS terkini. Sekadar tambahan saja, penjualan rumah AS naik 3,2% pada bulan lalu menjadi 5,47 juta. Ini posisi tertinggi sejak Juni lalu.

Adapun data pengajuan klaim pengangguran mingguan naik 13.000 menjadi 260.000. Meski begitu, posisi pengajuan klaim pengangguran di bawah angka 300.000 ini sudah berlangsung selama 85 pekan beruntun.

Ketiga, investor juga mengamati perkembangan di Eropa, seiring kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang mempertahankan suku bunga acuannya. Adanya masalah angka pengangguran yang tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lemah, dan inflasi yang benar-benar rendah, ECB harus menggelontorkan stimulus ekstra ke depannya, memangkas suku bunga acuan ke zona negatif, dan menekan biaya kredit ke level terendah agar bisa mengerek pertumbuhan.

 

Sumber : Kontan

1 34 35 36
Go to Top