Saatnya Pangkas Suku Bunga Acuan

in Uncategorized by

JAKARTA — Seluruh ekonom yang disurvei Bisnis pada Rabu (21/9) menilai bulan ini saat yang tepat bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Relaksasi itu diyakini dapat mendorong perekonomian di tengah keterbatasan fiskal.

Bank Indonesia baru saja menerapkan suku bunga acuan baru bernama 7-day Reverse Repo Rate mulai Agustus 2016. Rapat Dewan Gubernur BI bulan lalu memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 5,25%.

Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. David Sumual mengatakan, sisi fundamental memungkinkan adanya ruang pemotongan suku bunga acuan mengingat inflasi terkendali dengan pencapaian 2,79% (year on year/yoy) pada Agustus 2016 dan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 1,74%.

Di sisi lain, dia meyakini penurunan suku bunga acuan bulan ini dapat menstimulus permintaan yang lemah, bahkan pertumbuhan kredit Agustus 2016 berada di kisaran 6% (yoy) atau terendah sejak krisis global pada 2009.

“Ini untuk menstimulasi permintaan dengan menurunkan suku bunga karena ruangnya ada, pemerintah juga harus ada dorongan untuk belanja,” katanya, di Jakarta, Rabu (21/9).

Sementara itu, dari sisi fiskal, diproyeksikan akan ada pelebaran defisit hingga 2,7% bisa memicu permintaan. Menurutnya, jika defisit berkelanjutan karena kebijakan tax amnesty tidak mencapai target, maka diperlukan koordinasi antara BI dengan pemerintah menentukan besaran defisit yang akan ditambah.

Pemerintah setidaknya membutuhkan tambahan pendanaan Rp37 triliun untuk menutup defisit anggaran yang semula 2,5% menjadi 2,7%. Dia berharap koordinasi antara pemerintah dan bank sentral untuk mengantisipasi terjadinya crowding out yang mempenga ruhi investasi.

“September ini sudah ketahuan perlu tambahan defisit lagi berapa, kalau perlu maka buat koordinasi supaya tidak terjadi seperti tahun lalu, likuiditas yang terganggu akan membuat bunga bank meningkat karena likuiditas mengetat,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede. Menurutnya, otoritas moneter perlu berkoordinasi dengan otoritas fiskal mengingat rencana pemerintah untuk menerbitkan tambahan surat utang negara sebesar Rp37 triliun berpotensi menyebab kan kondisi crowding out.

Menurutnya, supaya lebih optimal dalam menjaga momentum pertumbuhan, khususnya men dorong konsumsi masyarakat, diper lukan juga koordinasi kebijakan fiskal yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

“Mengingat masih rendahnya permintaan kredit dan lemahnya daya beli masyarakat, pelonggaran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga momentum pertum buhan di tengah potensi pemangkasan belanja pemerintah,” ucapnya.

Ekonom PT Maybank Indonesia Tbk. Juniman menyatakan relaksasi moneter menjadi instrumen yang tepat untuk membantu pemulihan ekonomi dalam negeri karena saat ini ekonomi global terus mengalami pelemahan.

Dia berpendapat bank sentral tak perlu khawatir terhadap nilai tukar rupiah. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat relatif stabil di akhir Agustus 2016. The Fed bahkan terlihat tidak akan menaikkan suku bunganya pada bulan ini. Hal itu menjadi momentum bagi BI untuk melonggarkan moneter.

“BI enggak usah khawatir terkait rupiah. Katalis dari rupiah juga ada revenue dari tax amnesty. Walau masih jauh dari target pemerintah, dana yang masuk dengan kebijakan tax amnesty dapat berimbas positif pada rupiah,” ujarnya.

Dari sektor perbankan, perlambatan permintaan kredit yang lebih rendah ditambah peforma kredit bermasalah (non performing loan) yang pada Juli 2016 meningkat menjadi 3,32% mengharuskan BI untuk melakukan balancing.

“Artinya harus hatihati menurunkan suku bunganya jangan terlalu drastis. BI mau enggak mau akan mendorong kredit tumbuh,” ucapnya. Juniman memperkirakan posisi BI 7-day Reverse Repo Rate pada level 5% setelah dipangkas 25 basis poin akan bertahan hingga akhir tahun.

sumber : http://koran.bisnis.com/read/20160922/433/586014/saatnya-pangkas-suku-bunga-acuan

PENJELASAN BI 7-day (Reverse) Repo Rate

Mengapa BI memperkenalkan suku bunga acuan BI baru? Hal itu agar suku bunga kebijakan dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan dan sektor riil. Instrumen BI 7-Day Repo Rate sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar keuangan.

Pada masa transisi, BI Rate akan tetap digunakan sebagai acuan bersama dengan BI Repo Rate 7 Hari.

Penguatan kerangka operasi moneter ini merupakan hal yang lazim dilakukan di berbagai bank sentral dan merupakan best practice internasional dalam pelaksanaan operasi moneter. Kerangka operasi moneter senantiasa disempurnakan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan. Khususnya untuk menjaga stabilitas harga.

Penguatan kerangka operasi moneter juga mempertimbangkan kondisi makroekonomi yang kondusif dalam beberapa waktu terakhir, yang memberikan momentun bagi upaya penguatan kerangka operasi moneter.

sumber : http://www.bi.go.id/id/moneter/bi-7day-RR/penjelasan/Contents/Default.aspx

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

Latest from Uncategorized

Go to Top