Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), Layakkah Menampung Pisau Jatuh?

in Analisa Fundamental/Analisa Saham/Analisa Teknikal/Rekomendasi Saham by

Trading Strategy: 

BUY LEVEL: 280  TP: 300 – 320 SL: 270 – 260

Jika kita melihat chart diatas, kita bisa melihat sejak awal February 2017, SRIL mengalami kenaikan yang sangat tajam, yang disertai dengan penurunan yang tidak kalah tajam juga pada bulan Maret ini. Sekarang pertanyaannya, apakah SRIL bisa menjadi target beli kita jika kita melihat dari sedikit dari sisi fundamental perusahaan?

A bit on background:

Sri Rejeki Isman Tbk adalah perusahaan tekstil terintegrasi yang memproduksi benang tenun, kain jadi, pakaian, tenda serba guna, selimut, handuk, sampai dengan pakaian militer.

Jika kita melihat dari income statement SRIL, bisa dilihat kalau net income perusahaan mengalami kenaikan sebesar 6.6% menjadi $59.36 juta (so, penurunan tajam yang terjadi bisa saja disebabkan oleh kenaikan laba yang tidak sesuai dengan ekspektasi). Tetapi, on the bright side, this slight increase in earning juga disertai dengan net profit margin yang meningkat:

Dari segi produk, SRIL merupakan pemasok garment dan tekstil untuk pakaian yang mungkin sering kita beli sehari hari, on a special note, saya sangat encourage para investor untuk membeli saham yang kita sendiri pernah beli produknya, so that we can gauge the quality and even the brand power of the company. Demikian salah satu contoh product line dari SRIL pada divisi fashion garment:

Indonesia merupakan salah satu negara dengan upah minimum yang paling kecil, jika kita melihat dari data dibawah ini, Indonesia adalah yang kedua setelah Bangladesh (maka jangan heran jika ketika anda jalan-jalan di fashion store such as H&M, anda bisa melihat label “made in Indonesia”, “made in Bangladesh” atau bahkan “made in Turkey”:D). Dengan meningkatnya upah buruh di China dan banyaknya issue mengenai buruh di Bangladesh, kini Indonesia menjadi tujuan investasi yang lebih menarik bagi produsen.

Export tekstil Indonesia juga mengalami peningkatan yang yang bisa kita lihat kenaikan CAGR pada 2010 – 2015 yang mencapai 7.9%, yang meningkat cukup banyak jika dibandingkan dengan periode 2002 – 2015 yang “hanya” sebesar 4.6%. 

Perusahaan juga memperbesar sales area ke pasar Asia, yg meningkat dari 24% menjadi 33%. 

All in all, dengan laba yang bagus dan prospek bisnis yang semakin bagus kedepannya, penurunan harga SRIL bisa menjadi kesempatan yang baik untuk investor mulai mengakumulasikan saham, maupun trader yang ingin memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan profit dalam jangka pendek. So, what are you waiting for? 

*Disclaimer always kelap kelip =D 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*