Tag archive

bank indonesia

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 9 Bulan: Donald Trump

in Berita Saham by

Jakarta – Bank Indonesia (BI) pada rapat dewan gubernur bulanan menahan suku bunga acuan BI 7 days Repo Rate di level 4,75%. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, terus mewaspadai perkembangan di dunia seperti kenaikan Fed Fund Rate.

Posisi suku bunga acuan memang tak bergerak sejak Oktober 2016 ata

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 9 Bulan: Donald Trump
Foto: Sylke Febrina Laucereno

u selama 9 bulan. BI menahan laju penurunan suku bunga sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Kebijakan Donald Trump yang agresif harus diimbangi oleh kebijakan moneter yang dipegang oleh Bank Sentral. Makanya suku bunga acuan AS naik lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Baru saja beberapa hari lalu dinaikkan sebesar 25 basis point.

“Fed Fund Rate masih akan naik mungkin September atau Desember, lalu 2018 juga masih ada. Yang jadi perhatian kami, ini juga semakin positif meski dia juga akan menurunkan balance sheet-nya,” kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Dia mengungkapkan, selain itu kondisi global di Eropa yang harus diwaspadai adalah perkembangan Italia yang perbankannya mengalami kondisi yang tidak terlalu baik. Kemudian Inggris dengan kekacauan pada pemilihan umumnya.

Perbaikan kondisi ekonomi dunia, kata Agus hanya terlihat dari sisi harga komoditas yang pengaruhnya cukup signifikan terhadap Indonesia.

“Ini akan terus kami waspadai, dengan suku bunga yang tetap, kami konsisten jaga stabilitas makro ekonomi Indonesia dan sistem keuangan serta mendorong pemulihan ekonomi,” ujar dia.

Sementara dari sisi investasi nasional sudah menggembirakan, yang tadinya didominasi oleh pemerintah dengan pembangunan infrastrukturnya, swasta juga turut menyumbang investasi. “Bahkan investasi non bangunan pun sudah mulai naik khususnya sektor konstruksi,” imbuh Agus.

Seiring meningkatnya investasi, pertumbuhan ekonomi semester II 2017 diproyeksi akan mengalami perbaikan. Selain itu konsolidasi perbankan dan konsolidasi korporasi masih terus berjalan. BI mengharapkan konsolidasi bisa selesai dan pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan maksimal.

Agus menjelaskan tingkat inflasi nasional masih menunjukan kondisi yang baik. Padahal, BI sebelumnya memperkirakan 4,63% namun kenyataanya pada Mei 4,36%. BI meyakini inflasi dalam kedaan aman karena pasokan barang di seluruh Indonesia terjaga. Untuk Ramadan dan Lebaran diprediksi inflasi akan terjaga.

“Kami hargai upaya yang dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah untuk menjaga inflasi,” ujarnya.

Sumber : https://finance.detik.com/moneter/d-3533089/alasan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-selama-9-bulan-donald-trump

BI 7-Day Reverse Repo Rate Tetap 4,75% Menjaga Stabilitas dan Mendorong Keberlanjutan Pemulihan Ekonom

in Berita Saham by

​​(21 April 2017 ), Jakarta

No. 19/ 29 /DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 dan 20 April 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%, berlaku efektif sejak 21 April 2017. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik. Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang berasal dari global maupun domestik. Dari sisi global, terdapat indikasi perbaikan prospek perekonomian negara maju, namun sejumlah risiko tetap perlu dicermati terutama wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan faktor geopolitik. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian. Untuk itu, Bank Indonesia terus berupaya memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank Indonesia juga akan melanjutkan koordinasi bersama Pemerintah dalam rangka pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan mendorong kelanjutan reformasi struktural untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.Image result for Bank indonesia

Prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan terus membaik meskipun masih terdapat risiko yang perlu dicermati. Prospek ekonomi dunia yang meningkat antara lain ditopang oleh ekonomi AS yang terus menguat disertai dengan membaiknya ekonomi Eropa dan Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi AS semakin solid didukung oleh konsumsi sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan yang positif dan investasi yang membaik terutama di sektor energi seiring dengan kenaikan harga minyak. Perekonomian Eropa berpotensi meningkat ditopang perbaikan konsumsi dan ekspor. Perekonomian Tiongkok diperkirakan tetap kuat didukung oleh konsumsi dan investasi, khususnya infrastruktur. Meskipun harga komoditas dunia termasuk minyak diperkirakan tetap tinggi, perkembangan inflasi global diperkirakan tetap terkendali. Ke depan, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai antara lain wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan dampaknya terhadap pasar keuangan global, kelanjutan kenaikan suku bunga di AS serta perkembangan geopolitik terkini di beberapa kawasan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2017 diperkirakan tetap baik meskipun di bawah perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama dipengaruhi oleh investasi yang membaik dan kinerja ekspor yang tetap positif. Investasi pada triwulan I 2017 yang membaik didukung oleh investasi bangunan dan nonbangunan. Perbaikan investasi nonbangunan didukung oleh kenaikan harga komoditas seperti terlihat pada penjualan alat berat untuk pertambangan dan perkebunan yang meningkat. Kenaikan harga komoditas juga mendorong kinerja ekspor yang tumbuh positif. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2017 berpotensi sedikit melambat tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran dan motor yang menurun, dipengaruhi oleh proses konsolidasi korporasi yang masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat pada triwulan II 2017 ditopang oleh perbaikan investasi dan ekspor, sedangkan konsumsi diperkirakan relatif stabil. Sementara itu, membaiknya harga komoditas dan menguatnya permintaan terkait pemulihan ekonomi gobal diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja ekspor dan investasi. Ke depan, peran stimulus fiskal diharapkan dapat tetap terjaga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus 1,23 miliar dolar AS pada Maret 2017, terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Perkembangan surplus neraca perdagangan barang Indonesia triwulan I 2017 mencapai 3,93 miliar dolar AS, lebih dari dua kali surplus pada periode yang sama tahun 2016 yang sebesar 1,66 miliar dolar AS. Sementara itu, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia triwulan I 2017 telah mencapai 5,33 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2017 tercatat sebesar 121,8 miliar dolar AS, atau setara 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada Maret 2017 ditopang stabilitas makroekonomi yang terjaga dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian Indonesia serta risiko global yang berkurang. Selama triwulan I 2017, rupiah mengalami apresiasi sebesar 1,09% (ytd) menjadi Rp13.326 per dolar AS. Penguatan rupiah didukung oleh aliran modal asing yang terus meningkat sejalan dengan prospek investasi pada aset domestik yang menarik bagi investor asing serta membaiknya faktor global. Aliran dana asing yang masuk tersebut terutama dalam bentuk pembelian saham dan Surat Utang Negara. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk mendorong nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Maret 2017 mencatat deflasi seiring dengan pasokan bahan makanan yang meningkat. IHK mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm), menurun dari inflasi sebesar 0,23% (mtm) pada bulan sebelumnya. Deflasi IHK terutama disumbang oleh komponen bahan makanan bergejolak (volatile food) seiring dengan melimpahnya pasokan terkait panen beberapa komoditas pangan. Selain itu, terkendalinya harga didukung oleh inflasi inti yang tercatat sebesar 0,10% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 0,37% (mtm). Inflasi administered prices menurun terutama akibat deflasi tarif angkutan udara yang dapat mengurangi dampak kenaikan tarif listrik. Ke depan, untuk menjaga sasaran inflasi 4±1% dapat tercapai, koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi perlu terus diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah, dan risiko kenaikan harga volatile food menjelang bulan puasa.

Stabilitas sistem keuangan tetap solid didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan yang terjaga. Pada Februari 2017, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,0%, dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 22,2%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 3,2% (gross) atau 1,4% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial masih tetap berlanjut, namun semakin terbatas sejalan dengan kehati-hatian bank dalam mengelola risiko kredit. Berdasarkan jenis kreditnya, suku bunga kredit modal kerja mengalami penurunan terbesar (113 bps, yoy), diikuti suku bunga kredit investasi (83 bps, yoy) dan suku bunga kredit konsumsi (37 bps, yoy). Pertumbuhan kredit Februari 2017 tercatat sebesar 8,6% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 8,3% (yoy). Pertumbuhan kredit masih terbatas akibat masih berlanjutnya proses konsolidasi korporasi dan perbankan. Selanjutnya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2017 tercatat sebesar 9,2% (yoy), menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 10,0% (yoy). Di sisi lain, pembiayaan ekonomi non bank melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan right issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN) terus mengalami peningkatan. Sejalan dengan perkiraan meningkatnya aktivitas ekonomi dan masih berlanjutnya dampak pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya, pertumbuhan kredit dan DPK pada tahun 2017 diperkirakan lebih tinggi, masing-masing berada dalam kisaran 10-12% dan 9-11%.

Jakarta, 20 April 2017
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

Sumber : http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_192917.aspx

Ini strategi BI hadapi kenaikan bunga The Fed

in Berita Saham by

kONTAN, JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sudah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed. Strategi moneter dan fiskal telah dirasa cukup menjelang rapat di The Fed pada 13 dan 14 Desember 2016.Ini strategi BI hadapi kenaikan bunga The Fed

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung memastikan kenaikan suku bunga The Fed telah diantisipasi sejak jauh-jauh hari oleh BI dan sudah diperhitungkan. “Sudah kami antisipasi sebelumnya bahwa Fed Fund Rate naik satu kali di 2016. Jadi bukan suatu kejutan lagi,” kata Juda kepada KONTAN, Selasa (13/12).

Juda mengatakan, amunisi yang dimiliki oleh BI saat ini terdiri dari dua basis pertahanan. “First line of defence adalah cadangan devisa yang lebih baik. Second line of defence berupa bilateral swap agreements (BSA) yang terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Posisi cadangan devisa hingga akhir November 2016 turun US$3,5 miliar menjadi US$111,5 miliar dari posisi di Oktober 2016 sebesar US$115,0 miliar.

BI juga baru saja menandatangani perpanjangan BSA dengan Bank of Japan Senin kemarin sehingga dengan demikian akan ada tambahan amunisi dana sebesar US$ 22.76 miliar.

Adapun sebagai pengingat, Desember tahun lalu, BI telah menandatanganiBilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan Reserve Bank of Australia (RBA) senilai AUS$ 10 miliar atau US$ 7,3 miliar. Sebelumnya pada November 2015, BI dan Tiongkok juga sepakat untuk top-up BCSA dari senilai US$ 15 miliar menjadi US$ 20 miliar.

Sejauh ini, Indonesia telah menandatangani BCSA dengan empat negara, yaitu People’s Bank of China, Bank of Korea, Australia, dan Jepang. Semua BCSA tersebut memiliki selama periode tiga tahun. Nilai BCSA dengan Korea Selatan senilai USD 10 miliar telah ditandatangani pada tahun 2014

Juda menambahkan, dari dana repatriasi yang masuk ke dalam negeri juga akan cukup untuk menopang cadangan devisa. “Akan menambah tentunya terurama bila dikonversi ke dalam aset rupiah,” jelasnya.

Hingga November, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat total jumlah dana repatriasi yang masuk ke dalam negeri dari program amnesti pajak per November 2016 ini mencapai Rp 95 triliun..

 

Kebijakan moneter 2017 tidak tekankan stabilitas

in Uncategorized by

Jakarta (ANTARA News) – Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, mengatakan, arah kebijakan bank sentral pada 2017 tidak akan terlalu menekankan pada stabilitas perekonomian.

Menurut dia dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, di Jakarta, Selasa malam, arah kebijakan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tetap terbuka untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan seimbang.

Namun ketika dihadapkan pada situasi penuh tekanan ekonomi, Bank Indonesia akan memastikan terlebih dahulu stabilitas ekonomi terjaga, untuk kemudian mengoptimalkan bauran kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.Kebijakan moneter 2017 tidak tekankan stabilitas

“Jika kami sedang dalam periode harus memilih stabiliasasi atau pertumbuhan, kita harus yakinkan stbailisasi itu ada,” kata Agus menjawab mengenai sikap dan kebijakan moneter Bank Indonesia yang diduga kembali mengutamakan stabilitas di atas pertumbuhan (stability over growth) pada 2017.

Pada pertengahan 2016 ini, dengan laju inflasi yang terjaga, Bank Indonesia sudah memberi sinyal telah menggeser kebijakan moneternya dari yang sebelumnya megarahkan pada stabilitas perekonomian, menjadi kebijakan moneter yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

 Pergeseran kebijakan itu ditandai dengan penurunan suku bunga acuan dan Giro Wajib Minimum yang masing-masing mencapai 150 basis poin sepanjang tahun.

Pada 2017, Agus mengakui bank sentral harus lebih mencermati tanangan ekonomi global yang akan menerpa perekonomian domestik.

“Tantangan ekonomi gobal belum akan pulih, mengingat banyak risiko di harga komditas dan pasar keuangan. Tantangan tersebut harus dicarikan solusi yang lebih mendasar agar tidak signifikan berdampak ke ekonomi domestik,” kata dia.

Stabilitas ekonomi, lanjut Martowardojo, harus terjaga. Dengan stabilitas yang terjaga, maka laju kegiatan ekonomi akan lebih cepat, dan di sisi lain laju inflasi tetap terkendali.

Terjaganya stabilitas ekonomi itu pula yang membuat BI agresif dalam menurunkan suku bunga acuan dan Giro Wajib Minimum pada 2016 masing-masing sebesar 150 basis poin.

“Jika ada stabilitas, maka ruang untuk tumbuh cepat akan terbuka,” kata dia.

Dalam jangka pendek Indonesia dihadapkan pada dua tantangan utama. Pertama, stimulus fiskal yang belum signifikan menarik investasi swasta, yang terlihat dari rendahnya investasi swasta untuk sektor non-bangunan hingga triwulan III 2016.

Pelambanan investasi swasta juga karena swasta masih banyak berkonsolidasi dan restrukturisasi setelah diterpa imbas negatif dari perlambatan ekonomi pada 2015.

Tantangan selanjutnya transmisi kebijakan moneter ke suku bunga perbankan yang belum efektif. Dengan penurunan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin, suku bunga kredit baru turun 60 basis poin, sedangkan suku bunga deposito sebesar 108 basis poin.

“Kebijakan moneter ke perbankan belum bertransmisi secara merata,” ujarnya.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan akan berada di rentang 5,0-5,4 persen, setelah pada 2016 ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,0 persen.

BI Manfaatkan SBN Secara Penuh di 2024

in Berita Saham by

Jakarta, CNN Indonesia — Bank Indonesia (BI) secara bertahap akan menghapus salah satu instrumen kebijakan moneternya, yakni Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kemudian, BI akan menggantinya dengan memanfaatkan Surat Berharga Negara (SBN) di setiap transaksi moneternya.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, bank sentral menargetkan optimalisasi SBN dalam kebijakan moneter mencapai 100 persen pada tahun 2024 mendatang.

Ia menuturkan, saat ini, pemanfaatan SBN dalam kebijakan moneter baru mencapai 50 persen. Pemanfaatan tersebut salah satunya, yakni penggunaan SBN sebagai underlying transaksi repo antar bank.

“Lebih dari 50 persen kegiatan kami, yang menggunakan underlying asetnya sudah menggunakan SBN,” ujarnya usai menghadiri pertemuan tahunan BI, Selasa (23/11) malam.

Kendati demikian, Agus memastikan, SBI dengan varian tenor pendek akan tetap ada dan masih bisa digunakan sebagai underlying transaksi moneter jangka pendek. Hanya saja, SBI dengan tenor jangka panjang akan sepenuhnya digantikan oleh SBN.

BI Manfaatkan SBN Secara Penuh di 2024
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, bank sentral menargetkan optimalisasi SBN dalam kebijakan moneter mencapai 100 persen pada tahun 2024 mendatang. Saat ini, pemanfaatan SBN baru sekitar 50 persen. (REUTERS/Beawiharta).

“Kami meyakini ini akan membuat semakin efisien,” terang mantan Menteri Keuangan tersebut.

Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyambut baik langkah BI dalam arah kebijakannya. Ia mengatakan, pemerintah khususnya Kementerian Keuangan bersama BI terus melakukan koordinasi dan sinkronisasi, sehingga proses transisi berjalan lancar.

“Kalau dari volume instrumen jangka pendek itu bagi pemerintah juga menguntungkan, karena berarti bisa mendapatkan suku bunga yang lebih rendah,” imbuhnya.

Sri Mulyani menambahkan, proses transisi akan dilakukan secara bertahap dan perlahan. “Ada risiko seperti revolving itu tetap bisa dijaga, terutama dari sisi kehandalan pemerintah dan BI mengelola dinamika market.”

Diharapkan, kemampuan pengelolaan SBN oleh pemerintah dapat diterima oleh pasar. Begitu pula risiko yang ada, dapat dikelola dengan baik. Ia memahami kebutuhan BI yang akhirnya memerlukan SBN sebagai instrumen dalam operasi moneternya. (bir)

Dorong Ekonomi, BI Diprediksi Pangkas Bunga Acuan Pekan Ini

in Uncategorized by

“BI mungkin akan merasa terpaksa (menurunkan suku bunga acuan) untuk lebih mendukung momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut ke 2017.”

Bank Indonesia (BI) diprediksi bakal memangkas suku bunga acuan, BI 7-Day Repo Rate, melalui Rapat Dewan Gubernur pada pekan ini (21-22 September 2016). Sejumlah ekonom menilai, BI perlu memangkas suku bunga guna memacu pertumbuhan ekonomi di tengah kebijakan pemerintah memangkas belanja.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,25 persen menjadi 5 persen. Pelonggaran moneter tersebut perlu dilakukan untuk memacu penyaluran kredit dan daya beli masyarakat. “Pelonggaran kebijakan moneter diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah potensi pemangkasan belanja pemerintah,” katanya kepada Katadata, Rabu (21/9).

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit per akhir Juli 2016 sebesar 7,74 persen, atau melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 8,89 persen. Padahal, pertumbuhan kredit perbankan tahun ini ditargetkan sebesar 11-12 persen, itupun sudah lebih rendah dari proyeksi semula sebesar 14 persen.

Josua menilai, pemangkasan suku bunga juga mempertimbangkan perbaikan pada sejumlah indikator ekonomi. Pertama, ekspektasi inflasi yang terkendali. Ia memperkirakan, inflasi berada pada kisaran 3 persen – 3,3 persen di akhir tahun.

Kedua, nilai tukar rupiah yang stabil. Kurs rupiah cenderung stabil di tengah besarnya aliran masuk dana asing (capital inflow). Hal tersebut sebagai imbas dari pelaksanaan pengampunan pajak (tax amnesty) dan kecilnya kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/ The Fed) menaikkan suku bunga dananya bulan ini.

Senada dengan Josua, tim riset DBS Group juga memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuan ke level 5 persen. “BI mungkin akan merasa terpaksa melakukan (pemangkasan suku bunga acuan) untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut ke 2017,” kata tim riset DBS Group dalam DBS Group Research yang dilansir awal pekan ini.

Rendahnya inflasi juga dinilai bakal memperbesar peluang pelonggaran moneter. Tim riset DBS menyebut deflasi pada Agustus membuat inflasi tahunan berada di level 2,8 persen. Level inflasi tersebut terendah sejak akhir 2009.

Mereka memprediksi, inflasi bakal berada di level 3,7 persen pada 2016 dan 4,6 persen pada 2017. Prediksi tersebut merevisi target sebelumnya yakni 4,4 persen pada 2016 dan 5,2 persen pada 2017.

Meski data inflasi membuat peluang pemangkasan suku bunga membesar, tim riset DBS Group menilai, keputusan BI masih bisa terpengaruh oleh keputusan rapat The Federal Reserve yang juga digelar pada 20-21 September ini guna memutuskan kebijakan suku bunga dananya.

Keputusan bank sentral Amerika memang jadi tantangan bagi banyak negara termasuk Indonesia. Pada pertengahan 2013 lalu, pernyataan petinggi bank sentral Amerika terkait penarikan stimulus moneter sempat membuat penarikan dana (capital outflow) dari pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan depresiasi kurs rupiah.

Meski begitu, tim riset DBS Group meyakini, kali ini BI lebih siap menghadapi tantangan tersebut. Sebab, cadangan devisa dinilai cukup. “Untuk saat ini, kemungkinan ada cukup amunisi untuk menghadapi tantangan jangka pendek terkait volatilitas pasar,” kata tim riset DBS Group.

Prediksi pemangkasan suku  bunga sudah mencuat sejak bulan lalu. Sejumlah ekonom melihat peluang BI memangkas suku bunga acuannya melalui rapat dewan gubernur BI pertengahan Agustus lalu. Namun, BI memilih menahan suku bunga acuan di level 5,25 persen.

Menanggapi kebijakan BI tersebut, Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menilai, semestinya ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan semakin terbuka seiring dengan tren inflasi yang rendah. Dia menghitung ada ruang pemangkasan suku bunga acuan sekitar 0,5 persen hingga akhir tahun.

Secara detail, dalam hitungan Anton, jika ekspektasi inflasi berada di bawah empat persen sampai akhir tahun ini dengan terjaganya tarif dasar listrik (TDL), akan ada ruang penurunan BI 7-Day Repo Rate sebesar 0,5 persen. Tetapi jika inflasi lebih dari empat persen, ruang pelonggaran moneter hanya sebesar 0,25 persen.

“Terus terang saja, gemes banget. Apa yang menghambat (penurunan suku bunga). Semua risiko itu sudah dihitung, harusnya sudah mulai dipangkas dari bulan lalu, tapi belum juga sampai sekarang. Seharusnya (BI) lebih berani lagi,” ujar Anton.

Dorongan pemangkasan suku bunga acuan juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Menurutnya, peluang Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan makin besar. Hal tersebut seiring dengan data deflasi Agustus 2016.

Mantan Gubernur BI itu mengungkapkan, bank sentral bisa saja menurunkan suku bunga acuan  pertengahan Agustus lalu. Namun hal itu tertunda karena ada perubahan kebijakan suku bunga acuan, dari semula menggunakan BI Rate menjadi BI 7-Day (Reverse) Repo Rate.

Darmin berpendapat BI kemungkinan masih mempertimbangkan buruknya kondisi ekonomi global. “Memang ekonomi dunia jelek sehingga semuanya masih saling melihat, saling menunggu,” kata dia.

Go to Top