Tag archive

batubara

ITMG mengambil langkah konservatif

in Berita Saham by

 

JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tak mau gegabah mengikuti euforia tren stabilnya harga batubara. Hal ini tercermin dari serapan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang masih terbilang kecil.

Yulius Gozali, Direktur Keuangan sekaligus Hubungan Investor ITMG mengITMG mengambil langkah konservatifatakan, dari capex yang disediakan tahun ini sebesar US$ 60,3 juta atau setara sekitar Rp 700 miliar, serapannya sejauh ini baru sekitar 9%. Artinya, dana yang dibelanjakan ITMG masih kurang dari Rp 70 miliar.

Sektor batubara memang beberapa kali diguyur sentimen positif baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, kestabilan harganya belum sepenuhnya terkonfirmasi sehingga para pemain di dalam sektor ini tak mau buru-buru menggenjot produksi atau ekspansi.

Langkah konservatif ITMG juga terlihat dari proyeksi rata-rata harga batubaraperusahaan hingga akhir tahun yang masih di bawah proyeksi sejumlah analis, sekitar US$ 75 per ton.

“Untuk tahun ini kami memperkirakan rata-rata harga batubara berada di kisaran US$ 65 per ton dengan target volume produksi 25,5 juta ton,” ujar Yulius kepada KONTAN, Selasa (13/12).

Target produksi itu juga tak berubah banyak jika dibanding realisasi produksi tahun lalu. Sementara, realisasi produksi batubara ITMG per Maret 2017 sebesar 5,4 juta ton.

Kendati demikian, ITMG sudah mengamankan sebagian besar operasional bisnisnya tahun ini. Sebab, ITMG sudah lebih dulu mengamankan 77% kontrak penjualan batubara. Dengan kondisi itu, pendapatan ITMG ke depan relatif menjadi lebih aman.

Sumber http://investasi.kontan.co.id/news/itmg-mengambil-langkah-konservatif

ITMG kejar kontribusi bisnis setrum 30%

in Berita Saham by

PT Indo Tambangraya Megah Tbk berambisi mengantongi penghasilan dari bisnis listrik sebesar 15%-30% dari total pendapatan. Itu adalah target mereka dalam tiga tahun ke depan.

Untuk mewujudkan target itu, Indo Tambangraya membidik proyek setrum skala besar. Salah satunya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 5 berkapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW). Mereka melaju melalui anak perusahaan bernama PT ITM Banpu Power yang baru berdiri sejak Oktober tahun lalu.

Meski ngebet dengan proyek besar, Indo Tambangraya tak mau melewatkan proyek listrik energi baru dan terbarukan (EBT). “Ada beberapa peluang di energi terbarukan seperti surya, air dan angin yang mungkin akan kami bidik,” ujar Yulius Gozali, Direktur Keuangan sekaligus Investor Relations PT Indo Tambangraya Megah Tbk kepada KONTAN, Senin (6/3).

Proyek setrum merupakan bagian dari rencana Indo Tambangraya melakukan diversifikasi bisnis. Maklum, sejauh ini mereka hanya mengantongi pendapatan dari bisnis pertambangan batubara.

Adapun dalam bisnis batubara, Indo Tambangraya memiliki cadangan 211 juta ton batubara. Perusahaan berkode saham ITMG di Bursa Efek Indonesia itu ingin meningkatkan cadang batubara menjadi 250 juta ton. Caranya dengan mengakuisisi sumber tambang batubara anyar.

Selain meningkatkan cadangan batubara, Indo Tambangraya juga berkepentingan mencari pengganti tambang Jorong di Kalimantan Selatan yang tahun ini berakhir masa konsesinya. Nasib tambang Jorong tersebut menyusul nasib tambang Tandung Mayang di Kalimantan Timur yang sudah lebih dahulu berhenti operasi.

Ada sejumlah lokasi tambang pengganti yang Indo Tambangraya bidik. “Tetapi terlalu dini untuk membicarakan rinciannya saat ini,” kilah Yulius.

Tahun lalu, Indo Tambangraya memproduksi 25,6 juta ton batubara dan menjual 26,7 juta ton batubara. Tujuan penjualan mereka ke China, Jepang, India, Eropa, Asia Timur, Pasifik, Asia Tenggara dan pasar domestik. Sementara target produksi tahun ini 26,2 juta ton batubara dengan plus atau minus 300.000 ton batubara.

Indo Tambangraya yakin rata-rata harga batubara tahun ini lebih baik ketimbang tahun lalu. Makanya, mereka berani menargetkan pertumbuhan pendapatan 30%. Menurut catatan internal Indo Tambangraya, rata-rata harga batubara pada kuartal III 2016 yakni US$ 49,9 per ton. Harga naik menjadi US$ 59,8 per ton pada kuartal IV-2016.

 

 sumber : kontan

PM China: Kami Akan Membuat Langit Jadi Biru Kembali

in Berita Saham by

Perdana Menteri China Li Keqiang berjanji membuat langit di negaranya kembali biru dan “bekerja lebih cepat” untuk mengatasi polusi yang disebabkan pembakaran batu bara untuk pemanas rumah dan sumber pembangkit listrik.

Pernyataan tersebut disampaikan Li pada pembukaan Kongres Rakyat Nasional, yang menyoroti bagaimana ketidakpuasan publik soal kabut asap telah menjadi prioritas pemerintahaan saat ini.

Kongres Rakyat Nasional yang berlangsung selama 10 hari di Beijing diwarnai langit biru yang cerah berkat hembusan angin kencang dari utara.

Protes meningkat di sejumlah kota di Tiongkok di mana warga menentang keras pembangunan pabrik kimia dan insinerator sampah. Hal itu sekaligus menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat kelas menengah di China semakin tinggi akan bahaya polusi.

Li menegaskan, saat ini rakyat sangat berharap adanya kemajuan yang cepat dalam upaya meningkatkan kualitas udara.

“Kita akan membuat langit jadi biru kembali,” ujar Li di hadapan 3.000 delegasi di Kongres Rakyat Nasional yang diselenggarakan di the Great Hall of People atau Balai Besar Rakyat seperti dikutip dari Independent, Senin, (6/3/2017).

Lebih lanjut, PM China yang menjabat sejak tahun 2013 menggantikan Wen Jiabao ini juga menjelaskan bahwa pemerintah akan bekerja untuk men-upgrade pembangkit listrik tenaga batu bara demi mencapai emisi yang teramat sangat rendah, konservasi energi, serta memprioritaskan integrasi sumber energi terbarukan ke dalam jaringan listrik.

Pejabat ekonomi China telah memangkas target pertumbuhan menjadi 6,5 persen dan memperingatkan bahaya dari tekanan global atas kontrol perdagangan. Sementara di lain sisi, Beijing mencoba mendorong ekonomi konsumen dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor dan investasi.

Dalam kesempatan yang sama, PM Li juga berjanji akan memotong surplus produksi baja yang mengancam hubungan dagang antara China dengan Washington dan Eropa. Ia juga menekankan pihaknya akan memberikan perlakuan yang sama terhadap perusahaan asing di bawah strategi pembangunan pemerintah yang disebut “China Manufacturing 2025.”

PM Li juga menyoroti risiko tingkat utang China yang melonjak di mana para ekonom melihatnya sebagai ancaman terhadap pertumbuhan. Li menyebut tidak ada inisiatif utama, namun secara luas disinggungnya hal tersebut dinilai sebagai upaya Partai Komunis untuk menghindari guncangan jelang kongres pada akhir tahun ini, di mana Presiden Xi Jinping direncanakan akan kembali menjabat untuk lima tahun ke depan.

Para analis memperkirakan ajang Kongres Rakyat Nasional digunakan untuk menekankan agar risiko keuangan berkurang dan menjaga pertumbuhan yang stabil.

Li juga memperingatkan, Tiongkok tengah menghadapi situasi perekonomian yang sulit, baik di dalam maupun luar negeri.

“Keduanya, baik tren de-globalisasi dan proteksionisme meningkat. Ada banyak ketidakpastian tentang arah kebijakan ekonomi dan efek spillover, serta faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakpastian juga meningkat,” imbuhnya.

Pengusaha minta PLN serap produksi batubara RI

in Berita Saham by

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batu Bara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala, meminta PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyerap hasil batu bara sebagai bahan penghasil energi tanpa mempersoalkan masalah harga. Sebab, harga batu bara jauh lebih murah dibanding dengan penggunaan minyak dan gas.

“Harusnya PLN menyerap semua hasil batu bara tanpa mempermasalahkan soal harga, karena nilainya masih di bawah dari minyak dan gas. Jadi, seharusnya pakai batu bara dengan tidak mempertanyakan harga. Karena berapa pun harga batu bara dapat mengurangi kerugian. Karena kerugian dia dari BBM dan gas yang lebih mahal,” kata Supriatna di Hotel Darmawangsa, Jakarta, Rabu (1/3).

Supriatna juga menyarankan agar pemerintah tidak melakukan subsidi batu bara, mengingat jumlah pasokan banyak dan harga masih rendah. Menurutnya, lebih baik pemerintah fokus memberikan subsidi pada pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

“Memang sudah seharusnyalah yang namanya subsidi diberikan ke yang energi baru terbarukan. Jangan disuruh batu bara memberikan subsidi lagi,” katanya.

Supriatna menambahkan kurangnya serapan batu bara pada skala nasional mengakibatkan banyak pengusaha batu bara yang mengalami pengurangan produksi hingga mengalami kerugian.

“Jadi harus dibiarkan perusahaan tambang ini hidup. Kalau tidak nggak bisa berusaha, mati semua, nggak bisa menyuplai batu bara nanti,” pungkasnya.

sumber : merdeka com

Cina PHK 500 ribu buruh baja dan batu bara tahun ini

in Berita Saham by

Pemerintah Cina akan memberhentikan 500 ribu pegawai di industri baja dan batu bara tahun ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memangkas kelebihan kapasitas produksi di tengah perlambatan ekonomi.

Menteri Sumber Daya Manusia Cina Yin Weimin mengumumkan hal tersebut dalam konferensi pers di Beijing hari ini, dikutip dari AFP. Dia mengatakan para pegawai yang terkena PHK akan diberikan dua penawaran, masuk dalam program penempatan kerja atau pensiun dini.

Cina memproduksi separuh baja di dunia, tapi perlambatan ekonomi dan menurunnya permintaan global membuat industri baja di negara tersebut kelebihan kapasitas.

Tahun lalu, Beijing mengumumkan rencana pemecatan 1,8 juta pegawai di industri baja dan batu bara dalam beberapa tahun ke depan. Mereka sudah memecat 760 ribu pegawai sepanjang 2016.

“Seluruh proses berjalan mulus dan sesuai rencana,” kata Yin terkait pemecatan tahun lalu. “Tidak ada konflik atau masalah besar.”

Namun pada faktanya, upaya pemerintah Cina memangkas jumlah tenaga kerja di industri baja dan batu bara memicu aksi protes para pekerja. April tahun lalu, ratusan buruh pabrik baja melakukan unjuk rasa setelah kehilangan pekerjaan mereka di provinsi Hebei.

 

sumber : Rimanews

Update Emiten Batubara 2017

in Analisa Fundamental/Analisa Teknikal/Rekomendasi Saham by

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) saat ini merupakan emiten batubara dengan cadangan terbesar dengan cadangan batubara sebesar 3,33 miliar ton. Sedang sumber daya PTBA mencapai 8,27 miliar ton. Di susul oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO) di mana Cadangan ADRO bakal naik dari 1,3 miliar ton jadi 2,6 miliar ton dikarenakan akuisisi saham IndoMet Coal senilai US$ 120 juta.

Prospek batubara di tahun 2017 di perkirakan bagus oleh sejumlah analis, faktor-faktor dan penyebab nya sebagai berikut :

1.Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil batubara terbesar di Dunia

berikut Data Jumlah Produksi, Konsumsi dan Cadangan dikutip dari BP Statistical Review of World Energy edisi ke-64 tahun 2015.

1. China

Jumlah Produksi : 1.844,6 juta ton
Jumlah Konsumsi : 1.962,4 juta ton
Jumlah Cadangan : 114.500 juta ton
Lokasi : Benua Asia

2. Amerika Serikat

Jumlah Produksi : 507,8 juta ton
Jumlah Konsumsi : 453,4 juta ton
Jumlah Cadangan : 237.295 juta ton
Lokasi : Benua Amerika Utara

3. Indonesia

Jumlah Produksi : 281,7 juta ton
Jumlah Konsumsi : 60,8 juta ton
Jumlah Cadangan : 28.017 juta ton
Lokasi : Benua Asia

4. Australia

Jumlah Produksi : 280,8 juta ton
Jumlah Konsumsi : 43,8 juta ton
Jumlah Cadangan : 76.400 juta ton
Lokasi : Benua Australia/Oseania

5. India

Jumlah Produksi : 243,5 juta ton
Jumlah Konsumsi : 360,2 juta ton
Jumlah Cadangan : 60.600 juta ton
Lokasi : Benua Asia

6. Rusia

Jumlah Produksi : 170,9 juta ton
Jumlah Konsumsi : 85,2 juta ton
Jumlah Cadangan : 157.010 juta ton
Lokasi : Benua Eropa-Asia

7. Afrika Selatan

Jumlah Produksi : 147,7 juta ton
Jumlah Konsumsi : 89,4 juta ton
Jumlah Cadangan : 30,156 juta ton
Lokasi : Benua Afrika

8. Kolombia

Jumlah Produksi : 57,6 juta ton
Jumlah Konsumsi : 4,2 juta ton
Jumlah Cadangan : 6.746 juta ton
Lokasi : Benua Amerika Selatan

9. Kazakhstan

Jumlah Produksi : 55,3 juta ton
Jumlah Konsumsi : 34,5 juta ton
Jumlah Cadangan : 33.600 juta ton
Lokasi : Benua Asia

10. Polandia

Jumlah Produksi : 55 juta ton
Jumlah Konsumsi : 52,9 juta ton
Jumlah Cadangan : 5,465 juta ton
Lokasi : Benua Eropa

Seperti yang kita ketahui Indonesia tengah membangun infrastruktur kelistrikan di mana akan di bangun banyak PLTU guna mencapai keperluan listrik di negara kita ini.

Proyek Kelistrikan

Perlu kita ketahui porsi PLTU untuk kelistrikan di negara kita adalah yang paling besar di mana menurut statistik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) persero kapasitas pembangkit jenis ini per Desember 2015 mencapai 21 ribu GW atau setara dengan 40 persen dari total kapasitas pembangkit yang terpasang sebesar 52,9 GW.

Sumber : Databoks

dari data yang ada dapat di simpulkan bahwa kebutuhan akan Batubara untuk ke depan nya akan sangat banyak di karenakan 20 GW dari program kelistrikan 35 GW itu akan di support dari PLTU.

2. Pemangkasan produksi batubara di China juga akan menjadi salah satu dampak yang akan mendongkrak demand batubara di mana China akan tetap mengimpor batubara dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan domestik nya.

3. Di cabut nya larangan Green Energy di AS akan membuka kembali keran ekspor batubara ke AS seiring dengan pembangunan Infrastruktur di AS akan menaikan demand akan batubara.

Berikut Chart Emiten Batubara :

Chart PTBA

Seperti yang terlihat di chart emiten PTBA , beberapa hari yang lalu terjadi penjualan sehingga terjadi penurunan berturut-turut selama seminggu sehingga PTBA pada penutupan kemarin di tutup di harga 10675 di mana merupakan level Support yang cukup kuat.

Rekomendasi Buy on Weakness PTBA
RS 11100
Entry 10700 – 10750
Sp 10380

Disclaimer on

Untuk update emiten lain nya akan di update di postingan berikut nya.Stay tuned, salam PROFITS.

Pemerintah Patok Tarif Jual PLTU Berbasis Biaya Produksi

in Berita Saham by
Pemerintah Patok Tarif Jual PLTU Berbasis Biaya Produksi
Skema yang sama telah diberlakukan untuk pembangkit berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2017. (Dok. Cirebon Electric Power).

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana meracik tarif jual baru setrum Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang dan non tambang kepada PT PLN (Persero). Aturan tarif baru tersebut akan tertuang melalui peraturan yang akan dirilis.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman mengatakan, beleid ini nantinya akan mengubah mekanisme tarif listrik yang dibeli PLN dari skema harga patokan menjadi skema tarif yang dikaitkan dengan Biaya Pokok Produksi (BPP) pembangkitan.

Sebelumnya, skema yang sama telah diberlakukan untuk pembangkit berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang tercantum di dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2017. Dalam beleid tersebut, tarif listrik pembangkit EBT yang dibeli PLN dipatok 85 persen dari BPP regional.

Sampai saat ini, pemerintah belum juga menetapkan besaran persentase dari BPP yang bisa diimplementasikan bagi tarif PLTU ini.

“Kami masih menghitung berapa persentase dari BPP yang bisa masuk ke tarif PLTU. Tetapi, tentu saja nanti tarif beli listrik PLTU akan dihubungkan dengan BPP,” tutur Jarman di kantornya, Jumat (10/2).

Menurut dia, harga jual listrik PLTU perlu diubah karena pemerintah mulai meninggalkan rezim harga patokan (cost plus margin) secara perlahan, menuju harga keekonomian. Pasalnya, negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand juga sudah menerapkan skema harga keekonomian.

Makanya, jika tidak ada aral melintang, semua tarif listrik akan didasarkan pada keekonomian pembangkit yang tercermin dalam BPP pembangkitan. “Kami juga perlu mengefisienkan BPP regional dan nasional. Itu langkah selanjutnya setelah membuat formulasi tarif baru ini,” kata Jarman.

Menurutnya, BPP ini perlu dikontrol agar margin yang diterima pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) tidak negatif. Apalagi, saat ini, batubara mengambil porsi besar di dalam kapasitas pembangkit domestik, sehingga perubahan skema tarif jual listrik dari PLTU bisa mengefisienkan rata-rata BPP nasional.

Menurut data Kementerian ESDM, sebanyak 52,6 persen listrik yang dibeli PLN dari IPP berasal dari PLTU. Sementara itu, harga batu bara mengambil porsi sebesar 33,5 persen dari rata-rata BPP nasional yang saat ini sebesar US$7,35 sen per Kilowatt-Hour (KWh).

“Dengan cara seperti ini, kami harap persediaan listrik akan tercapai sesuai kebutuhan. Selain itu, dengan tarif PLTU yang berdasarkan keekonomian, kami harap tarif listrik yang dijual ke masyarakat bisa lebih efisien,” imbuhnya.

Menurut data PLN, saat ini, kapasitas PLTU terpasang sebesar 28.090 Megawatt (MW). Angka ini mengambil 52 persen dari total kapasitas pembangkit sebesar 54.015 MW.(bir/gen)

Freeport Menanti IUPK Sementara Agar Bisa Ekspor

in Berita Saham by
Freeport Menanti IUPK Sementara Agar Bisa Ekspor
Dirjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Bambang Gatot (kanan) berbincang dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Chappy Hakim (kiri) disela-sela rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (7/12/2016). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.

PT Freeport Indonesia masih menanti kesediaan pemerintah untuk mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Sementara agar bisa mendapatkan kesempatan relaksasi ekspor.

“Kami masih menunggu IUPK Sementara sehingga bisa ekspor (relaksasi ekspor), namun izin dari pemerintah belum keluar,” kata Juru bicara PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, seusai mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks DPR Senayan, Jakarta, pada Kamis (9/2/2017) seperti dikutip Antara.

Riza mengatakan hingga kini aktivitas produksi PT Freeport Indonesia tersendat akibat belum bisa melakukan ekspor.

Terhambatnya ekspor ini setelah terbit Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas PP No.23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP Minerba). Regulasi ini tidak mengizinkan perusahaan tambang melakukan ekspor apabila tidak berkomitmen membangun smelter untuk mengolah hasil produksinya di dalam negeri.

Perusahan seperti Freeport, yang belum memiliki smelter, berpeluang mendapatkan izin relaksasi ekspor apabila bersedia mengubah status Kontrak Karya menjadi IUPK. Untuk transisi proses itu, ada wacana pemerintah akan menerbitkan IUPK sementara. Izin sementara itu berlaku bagi perusahaan yang telah mengajukan permohanan dan melengkapi persyaratan perubahan status itu.

Adapun menurut Riza, Freeport sudah berkomitmen untuk mengubah status izinnya dari Kontrak Karya menjadi IUPK agar bisa melakukan ekspor. Hanya saja, ada sejumlah hal yang belum bisa disepakati oleh Freeport dan pemerintah mengenai persyaratan penerbitan IUPK perusahaan itu.

“Transisi ini tidak bisa dilakukan dengan waktu yang cepat sehingga masih ada yang harus diajukan kepada pemerintah untuk kondisi tertentu,” kata Riza.

Komisi VII DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan sejumlah perusahaan tambang mineral dan industri smelter pada Kamis (9/2/2017). Agenda rapat kali ini adalah mendengarkan masukan terkait implementasi PP Minerba. Rapat dimulai pada pukul 12.00 WIB, dan selesai pada pukul 16.00 WIB, namun dilaksanakan secara tertutup.

Berdasarkan data yang diterima Antara, di rapat itu, komisi VII DPR RI menggelar rapat bersama sejumlah direktur utama berbagai perusahaan tambang mineral dan industri smelter. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT Freeport Indonesia, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (Newmont), PT Vale Indonesia, PT Sulawesi Mining Investment, PT Gebe Industry Nickel, PT lndoferro, PT Cahaya Modern Metal, PT Indonesia Guang Ching Nikel and Stainless Steel dan PT Indonesia Chemical Alumina, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) dan PT Wanxiang Nikel Indonesia.

Anggota Komisi VII DPR RI Dito Ganinduto membenarkan bahwa sejumlah perusahan tambang, termasuk Freeport, mengeluhkan tersendatnya produksi karena tidak bisa melakukan ekspor konsentrat. Dito menambahkan sebagian besar perusahaan tambang juga kesulitan menjalani transisi perubahan status Kontrak Karya menjadi IUPK.

“Setelah hari ini (rapat), nanti kami tampung hasilnya dari perusahaan tambang dan industri smelter, lalu tanggal 22 Februari 2017 akan dibicarakan sama pemerintah,” kata Dito.

sumber : Tirto.id

Update Sektor Batubara Pasca Pelantikan Presiden Trump

in Analisa Fundamental/Rekomendasi Saham by

Sektor Batubara akhir ini cukup menarik untuk di perhatikan, seiring pasca pelantikan presiden baru Donald Trump yang akan mencabut larangan Green Energy di prediksi kan akan memberikan dampak positif bagi sektor batubara.

Berikut Chart dari Batubara :

 
source: tradingeconomics.com

Harga Batubara penutupan kemarin mengalami kenaikan sebesar +0.42% yaitu di harga 83.80 USD/MT dan di perkirakan akan naik lagi di kisaran harga 85.70 USD/MT melihat sentiment positif yang ada bagi sektor batubara.

Katalis yang mendorong sektor Batubara kedepan nya :
1. Kebijakan Presiden Donald Trump yang melihat dengan pencabutan larangan untuk sektor batubara akan memberikan tambahan devisa negara dengan hasil ekspor dari cadangan batubara di negara Paman Sam tersebut yang melimpah.
2. Kebutuhan akan Energi untuk Pembangkit Listrik akan bertambah di mana pemakaian Batubara untuk Pembangkit Listrik di Amerika adalah:

Coal = 33%
Natural gas = 33%
Nuclear = 20%
Hydropower = 6%
Other renewables = 7%
Biomass = 1.6%
Geothermal = 0.4%
Solar = 0.6%
Wind = 4.7%
Petroleum = 1%
Other gases = <1%.

sedangkan di Indonesia dari Proyek 35 Gigawatt , 20 Gigawatt itu memakai PLTU.

Nantikan update berikut nya di postingan berikut nya. Salam PROFITS !!

Prospek Sektor Batubara 2017

in Analisa Fundamental/Rekomendasi Saham by

Perlu kita ketahui Indonesia termasuk salah satu dari 5 negara produsen batubara terbanyak di Dunia, terlihat dari data berikut :

Sumber : http://www.worldatlas.com/

Indonesia menghasilkan batubara sebanyak 458jt Mt per tahun nya di mana hampir dari 75% di ekspor dan 23% sekian untuk penjualan domestik dan sisa nya di pakai sebagai bahan bakar.

Sumber: APBI-ICMA

Dari data yang terlihat, tidak dapat di pungkiri bahwa Batubara salah satu bahan tambang yang menyumbang Devisa yang cukup banyak pada tahun sebelum nya sebelum kejatuhan dari harga batubara.

Terlihat dari data yang ada Harga Batubara Acuan jatuh dari harga 95.48 USD/Tn pada tahun 2012 ke 61.84 USD/Tn pada tahun 2016 dan terendah di tahun 2015 dengan harga 60.13 USD/Tn, penurunan terhitung sekitar 35%.

Sumber : https://www.minerba.esdm.go.id/

Mari kita bandingkan Emiten batubara yang ada di chart berikut ini :

dapat kita simpulkan dari keempat chart emiten yang ada hanya HRUM yang belum mengalami reversal yang cukup significant dalam kurun waktu 5 tahun ini. Apakah akan rally seiring dengan prediksi kenaikan harga batu bara yang di topang oleh kebijakan global dan domestik ? nantikan di postingan berikut nya untuk katalis dari sektor batubara.

Disclaimer: Tulisan ini dibuat hanya sebagai penambah pengetahuan dan bukan sebagai wahana untuk pembuatan keputusan investasi, penulis dibebaskan dari segala keuntungan maupun kerugian dari transaksi yang dilakukan berdasarkan informasi ini

Go to Top