Tag archive

emiten

BEI: Emiten pailit bisa terancam delisting

in Berita Saham by

(28/04/2017). JAKARTA. Perusahaan bisa saja berkinerja kurang baik. Bahkan, bisa saja status suatu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru mengalami pailit. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat menilai, emiten yang mengalami pailit bisa mendapatkan konsekuensi delisting.

Terkait nasib dan perlindungan investor yang perusahaannya terancam delisting, kata Samsul, akan ada prosedur khusus. “Beli saham kan bentuknya investasi, selanjutnya akan mengikuti semua ketentuan hukum terkait dengan kepailitan,” katanya, Kamis (27/4).BEI: Emiten pailit bisa terancam delisting

Sementara, Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyatakan, emiten yang pailit akan menjalani proses tertentu. Pasalnya, kondisi pailit bukanlah kondisi yang mendadak. “Misal dari mulai revenue tidak ada saja, kami sudah suspensi dan umumkan. Atau auditor menulis tentang keraguan akan going concernessbiasanya udah kami suspensi,” katanya, Kamis (27/4).

Dia menambahkan, pada dasarnya bursa efek akan mengamati berita emiten-emiten sekecil apa pun. Bila ada kejadian yang sekecil apapun, akan mendapat perhatian pihaknya. “Semua untuk minority protections,” imbuhnya.

Misalnya saja, Tito mencontohkan, berita seperti ketiadaan revenue atau proses pengadilan yang bisa membahayakan emiten, itu semua menjadi pertimbangan bursa. “Prinsipnya sesuatu yang bisa mempengaruhi harga saham, dalam 2 x 24 jam harus dilaporkan. Itu aturannya,” pungkas Tito.

Sebelumnya, perusahaan transportasi, PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT) diputuskan pailit. Status pailit tersebut lantaran hasil voting kreditur menunjukkan penolakan terhadap proposal perdamaian CPGT.

Sumber : http://investasi.kontan.co.id/news/bei-emiten-pailit-bisa-terancam-delisting

EVENT 06 APRIL 2017 : Investor Goes To Emiten

in Rekomendasi Saham by

Hallo para Investor yang antusias, kali ini ada kabar gembira. Phintraco Sekuritas bekerja sama dengan Bursa efek Indonesia akan mengadakan event “INVESTOR GOES TO EMITEN” pada tanggal 06 April 2017 ke salah satu emiten yang baru listing pada tahun 2015 yaitu PT. ATMINDO, Tbk. Salah satu yang mendukung perusahaan yang bergerak di bidang Boiler untuk IPO ini adalah terkait dengan minat perseroan mengincar proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

Atmindo memiliki aset senilai Rp 167 miliar per 31 Mei 2015, dengan ekuitas sebesar Rp 89 miliar. Dana hasil IPO digunakan perseroan untuk modal kerja untuk persiapan ekspansi berikutnya.

Kepincut Proyek Jokowi, Perusahaan Boiler Atmindo akan IPO

Pada kesempatan ini anda sebagai Investor akan di pandu oleh Publik Relation dari PT.ATMINDO, Tbk bersama dengan pihak Phintraco Sekuritas dan Bursa Efek Indonesia Medan akan mengunjungi pabrik PT.ATMINDO, Tbk yang berada di Tanjung Morawa dari pagi jam 09.00 sampai dengan selesai.

Persyaratan nya cukup mudah, anda hanya perlu membuka account di PHINTRACO SEKURITAS dan membeli 1 LOT saham PT.ATMINDO, Tbk kemudian menkonfirmasi pada pihak Phintraco Sekuritas Medan atau Pihak Bursa Efek Indonesia. Cukup Gampang kan untuk persyaratan nya, jadi tunggu apalagi yuk segera daftarkan diri anda. Seat terbatas hanya untuk 30 orang peserta. Keterangan lebih lanjut bisa di hubungi ke 061-453 0223 atau ke kantor Phintraco Sekuritas di gedung Uniland lt 1 Lobby West Tower. SALAM PROFITS

Wismilak Luncurkan 2 Varian Terbaru

in Berita Saham by

10/03/2017 Jakarta —  PT Wismilak Inti Makmur Tbk terus memperkuat segmen strong mild dan kretek dengan meluncurkan dua produk anyar, yakni Diplomat Impact di segmen strong mild, dan Wismilak Dirgha di segmen kretek premium.

“Dua produk ini didesain untuk perokok di segmen strong mild dan segmen kretek,” kata Marketing Manager PT Wismilak Inti Makmur Tbk, Doni Arya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (10/3).

Produk Diplomat Impact, menurut Doni, menyasar pasar anak muda. Sedangkan untuk memperkuat pangsa kretek premium diluncurkan Wismilak Dirgha yang memiliki karakteristik tobacco fruity sweet dan rokok kretek Wismilak Dhirga dengan ukuran yang lebih panjang.

“Produk Wismilak Dirgha untuk memperbesar pasar kretek. Pada tahun lalu, rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) Wismilak tumbuh sebesar 7,2%,” papar dia.

Untuk produk Diplomat Impact, lanjut Doni, dipasarkan dalam kemasan 16 batang. Sedangkan Wismilak Dirgha hadir dalam kemasan 12 batang.

“Produk Wismilak tersebut telah tersedia di pasar tradisional maupun modern,” ujar Doni.

Wismilak Inti Makmur merupakan induk perusahaan PT Gelora Djaja dan PT Gawih Jaya. Kini, perusahaan dengan kode emiten WIIM memiliki 20 kantor cabang, 4 stock point point dan 31 agen yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sumber : http://www.imq21.com/news/read/426613/20170310/124241/Wismilak-Luncurkan-2-Varian-Terbaru.html

PENURUNAN BEBAN PAJAK BANTU KENAIKAN TIPIS LABA SARI ROTI DI 2016.

in Berita Saham by

 (10/03/2017) – PT Nippon Indosari Tbk (ROTI) mengalami pertumbuhan laba bersih tipis sebesar 3,48% hingga periode 31 Desember 2016 menjadi Rp279,96 miliar atau Rp55,31 per saham dibandingkan laba bersih Rp270,53 miliar atau Rp54,45 per saham periode sama tahun sebelumnya.

Laporan keuangan perseroan Jumat menyebutkan, penjualan neto naik jadi Rp2,52 triliun dibandingkan penjualan neto Rp2,17 triliun tahun sebelumnya. Beban pokok penjualan tercatat Rp1,22 triliun naik dari Rp1,01 triliun tahun sebelumnya.Image result for sari roti sobek

Laba bruto diraih Rp1,30 triliun meningkat dibandingkan laba bruto Rp1,15 triliun, namun laba usaha turun jadi Rp443,04 miliar dari laba usaha Rp453,65 miliar salah satunya karena naiknya beban usaha jadi Rp918,13 miliar dari Rp739,13 miliar.

Laba sebelum pajak turun jadi Rp369,41 miliar dari laba sebelum pajak Rp378,25 miliar tahun sebelumnya, namun laba bersih bisa naik tipis usai beban pajak turun jadi Rp89,63 miliar dibandingkan beban pajak Rp107,71 miliar hingga 31 Desember 2015.

Total aset perseroan hingga 31 Desember 2016 mencapai Rp2,91 triliun meningkat dari total aset per 31 Desember 2015 yang Rp2,70 triliun. (end)

Sumber : http://www.iqplus.info/news/stock_news/roti-penurunan-beban-pajak-bantu-kenaikan-tipis-laba-sari-roti-di-2016,68085636.html

Progres Pembangunan Properti di Pulau C dan D Lebih dari 50 Persen

in Berita Saham by

 

JAKARTA, KompasProperti – Kendati belum memiliki izin lingkungan dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), pembangunan properti di lahan reklamasi Pulau C dan D terus dilakukan.

Menurut Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta (KSTJ), PT Kapuk Naga Indah yang merupakan anak usaha Agung Sedayu Group (ASG) telah membangun beberapa perumahan dan ruko di atas Pulau C dan D.

“Di Pulau C sudah terbangun mungkin 40-50 persen, sedangkan Pulau D yang sudah relatif berbentuk sepenuhnya mungkin 60 sampai 70 persen,” kata perwakilan KSTJ dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Ahmad Marthin Hadiwinata, di Kantor Ombudsman, Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Marthin menambahkan, bangunan-bangunan yang ada di atas Pulau C dan D itu ditujukan bagi kelas menengah atas seperti tercantum di dalam peraturan daerah (perda) rencana tata ruang wilayah (RTRW) DKI Jakarta.

Sebagai informasi, pada Januari 2012 DPRD DKI Jakarta mengesahkan Perda Nomor 1 Tahun 2012 tentang RTRW 2010-2030 yang memasukkan reklamasi pulau-pulau yang saat itu berjumlah 14.

Pembangunan-pembangunan itu menurut Marthin tidak semestinya dilakukan lantaran sampai saat ini izin lingkungan itu masih terus diproses dan belum ada keputusan resmi terkait hal tersebut.

“Saat ini di sana, (mereka) masih membangun dan masih ada alat-alat berat sementara izin lingkungan dan amdalnya sendiri masih berproses,” tambah dia.

Jika ditilik lebih jauh, PT Kapuk Naga Indah akan menggarap Pulau C dan D seluas masing-masing 279 hektar dan 312 hektar.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta per Januari 2016, selain Pulau C dan D, ASG mengantongi izin prinsip reklamasi untuk Pulau A seluas 79 hektar, Pulau B seluas 380 hektar dan Pulau E seluas 284 hektar.

Jadi secara total, ASG bakal membangun 1.331 hektar pulau buatan di Teluk Jakarta.

Meski KSTJ menilai Pulau C dan D belum mendapat izin lingkungan dan amdal, Badan Pengendalian lingkungan hidup DKI Jakarta justru melansir, kedua pulau itu ditambah Pulau E sudah memiliki izin amdal dan pelaksanaan reklamasi yang diberikan pemerintah pada 2011.

Sementara Pulau A dan B belum memiliki izin Amdal dan pelaksanaan reklamasi.

Selain PT Kapuk Naga Indah, pengembang lain yang ikut ambil bagian dalam reklamasi Teluk Jakarta adalah PT Jakarta Propertindo, dan PT Muara Wisesa Samudera yang merupakan anak perusahaan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN).

Kemudian PT Taman Harapan Indah, PT Jaladri Kartika Ekapaksi, PT Pembangunan Jaya Ancol, PT Manggala Krida Yudha, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, PT Jakarta Propertindo, dan PT KEK Marunda.

Sumber : http://properti.kompas.com/read/2017/03/09/190654821/progres.pembangunan.properti.di.pulau.c.dan.d.lebih.dari.50.persen

 

AKSI EMITEN 8 MARET: Kinerja ADRO Moncer, KRAS Incar Kenaikan Penjualan Baja

in Berita Saham by

JAKARTA – Sejumlah aksi emiten menjadi perhatian pelaku pasar saham pada perdagangan Rabu (08/03/2017).

Adaro Energy (ADRO). PT Adaro Energy Tbk. membukukan pertumbuhan laba inti sebesar 35% menjadi US$398 juta pada tahun lalu dibandingkan dengan raihan pada 2015 senilai US$294 juta. (Bisnis Indonesia)

Krakatau Steel (KRAS). Korporasi baja milik negara, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., mengincar penjualan baja sebanyak 2,7 juta ton pada 2017 atau meningkat sekitar 20% dibandingkan dengan 2,23 juta ton pada 2016. (Bisnis Indonesia)

Pakuwon Jati (PWON). PT Pakuwon Jati Tbk. memproyeksikan kontribusi pendapatan berulang dari lini bisnis penyewaan ritel atau mal pada tahun ini mencapai 45%, atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 40%. (Bisnis Indonesia)

Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) menerbitkan obligasi sebesar Rp 2,01 triliun melalui penawaran umum berkelanjutan (PUB) II tahap V tahun 2017. Obligasi tersebut terbagi dalam tiga seri dengan kupon 7,5-8,9%. (Investor Daily)

BRI Agroniaga (AGRO). PT BRI Agroniaga Tbk kembali menghimpun dana melalui pasar modal. Anak usaha PT Bank Rakya Indonesia Tbk (BBRI) ini berniat menawarkan maksimal 7,69 miliar saham melalui skema penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. (Kontan)

Capitalinc Investment (MTFN). PT Capitalinc Investment Tbk mengakuisisi PT Indo Kilang Prima senilai Rp 11 miliar. Hal tersebut merupakan bagian dari ekspansi perusahaan, yang kegiatan utamanya di bidang investasi. (Investor Daily)

Sumber : http://market.bisnis.com/read/20170308/192/634988/aksi-emiten-8-maret-kinerja-adro-moncer-kras-incar-kenaikan-penjualan-baja

Ekonomi kondusif, emiten ekspansif

in Berita Saham by

JAKARTA. Dengan prospek ekonomi yang lebih kondusif pada tahun ini, emiten di Bursa Efek Indonesia siap melanjutkan ekspansi bisnis. Sejumlah emiten sudah menyiapkan belanja modal (capex) untuk ekspansi.

PT Astra International Tbk (ASII), misalnya, mengalokasikan capex Rp 20 triliun, termasuk untuk anak usaha yang tak terkonsolidasi. Alokasi capex untuk ASII nilainya Rp 15 triliun. ASII banyak mengalokasikan capex untuk bisnis alat berat, properti dan infrastruktur.

Kemudian PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengerek capex 60% menjadi Rp 2,56 triliun. Kenaikan capex paling tinggi berasal dari emiten konstruksi, terutama emiten pelat merah. Misal, capex PT Jasa Marga Tbk (JSMR) naik dua kali lipat.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai ekonomi membaik karena sejumlah faktor. Misal stabilnya harga komoditas. Perbaikan harga komoditas berandil besar dalam perbaikan ekonomi. “Jika harga komoditas jelek, banyak daerah yang daya belinya turun,” ujar dia.

Di sisi lain, menurut Hans, kualitas non performing loan (NPL) perbankan semakin baik. Ini berpotensi menurunkan bunga dan membuat ekspansi kredit lebih tinggi. Emiten pun mudah meraih utang bank. Peningkatan belanja pemerintah juga mendorong ekspansi emiten BUMN.

Tapi masih ada risiko lain. Kenaikan bunga The Fed yang akan lebih cepat tahun ini bisa menekan ekonomi dalam negeri. Efeknya, dollar AS menguat terhadap rupiah. “Emiten yang belanja modalnya dalam dollar bisa terkena dampak,” ujar dia.

Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo berpendapat, banyak regulasi pemerintah berubah, misalnya tentang ekspor pertambangan. Ini menjadi satu hal yang harus dipertimbangkan efeknya bagi emiten.

Lucky justru menilai, ruang pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan. Sehingga emiten belum terlalu ekspansif. Toh, emiten yang terlalu ekspansif belum tentu mencetak kinerja bagus. “Tetap harus menjaga arus kas, karena ruang pertumbuhan ekonomi belum terlalu besar,” imbuh dia.

sumber: Kontan

Telkom tetap mendominasi pasar

in Berita Saham by

JAKARTA. Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali menunda rencana penurunan tarif interkoneksi rata-rata sebesar 26%. Langkah ini demi mencari biaya interkoneksi yang dianggap adil bagi semua pihak.

Berdasarkan surat Kementerian Komunikasi dan Informatika Nomor S-1668/M.KOMINFO/PI.02.04/11/2016 tertanggal 2 November 2016, pembahasan tarif interkoneksi ditunda hingga tiga bulan ke depan, terhitung mulai 2 November 2016 lalu.

Analis BCA Sekuritas Aditya Eka Prakasa menilai, jika tarif baru interkoneksi terwujud, PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) berpotensi mendapatkan keuntungan. Sebab, kedua emiten ini belum banyak menciptakan pasar di luar Jawa.

Berbeda dengan PT Telkomsel, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), yang sudah menguasai pangsa 85%.

Meski demikian, menurut Aditya, bila kelak tarif baru interkoneksi ditetapkan, dampak ke TLKM justru tidak terlalu besar. Pasalnya, pendapatan bisnis interkoneksi mereka kian menurun sejak beberapa tahun terakhir.

“Kami memproyeksikan, ke depan, pendapatan dan cost untuk interkoneksi terus turun karena pelanggan cenderung beralih ke free call dan chatting,” kata Aditya.

Aditya mencatat, pendapatan interkoneksi secara bertahap turun diikuti biaya interkoneksi yang lebih rendah setiap tahun. Pada 2013, TLKM meraih pendapatan interkoneksi Rp 4,84 triliun.

Di 2017, dia memprediksikan, pendapatan tersebut menyusut jadi Rp 4,05 triliun. Adapun pendapatan EXCL dari interkoneksi yang pada 2013 senilai Rp 3,03 triliun, diperkirakan turun menjadi Rp 2,02 triliun di 2017. Sedangkan ISAT yang meraup Rp 2,43 dari interkoneksi pada 2013 ditaksir hanya akan meraup penghasilan sebesar Rp 1,50 triliun di 2017.

“Kami melihat hal ini sebagai ancaman jangka pendek untuk TLKM. Sebab, berbagi jaringan pada kenyataannya tidak begitu mudah diterapkan,” ungkap Aditya.

Bisnis data

Di luar interkoneksi, Aditya menilai, TLKM bisa menjadi pilihan karena mampu mempertahankan harga premium, bahkan di tengah perang harga. Mereka cukup mampu memonetisasi bisnis datanya.

Balance sheet TLKM juga lebih sehat ketimbang pesaingnya. Dengan begitu, TLKM berada di posisi strategis untuk ekspansi,” tutur dia.

Analis Mega Capital Leo Teo juga berpendapat, dalam kondisi pasar dengan volatilitas tinggi seperti sekarang, saham defensif seperti TLKM layak untuk dikoleksi. Dibanding EXCL dan ISAT, menurut Leo, keunggulan TLKM saat ini adalah forex exposure-nya cukup rendah atau hanya 4%. Isu forex cukup sensitif di bisnis telekomunikasi.

Book balance TLKM juga masih jauh lebih solid dari EXCL dan ISAT. Dengan market discount seperti sekarang, TLKM layak dikoleksi,” ujar Leo.

Tapi, sebaiknya pasar saham dihindari dulu. “TLKM baik untuk investasi, bukan untuk trading. Masuk bertahap karena market masih berpotensi terkoreksi sampai akhir tahun,” kata Leo.

Aditya memproyeksikan, pada 2017 dan 2018 margin emiten telekomunikasi meningkat secara bertahap, dengan EBITDA margin 49,9% dan 50,6%.

Konsumsi data yang lebih tinggi bakal menggantikan tren penurunan pendapatan interkoneksi. “Average revenue per user (ARPU) juga akan meningkat sebagai efek lanjutan dari usaha perusahaan telekomunikasi menormalkan tarif data mereka,” imbuhnya.

Untuk tarif data, Aditya menyebutkan, TLKM memimpin dengan harga Rp 6 per megabyte (MB), disusul ISAT dan EXCL masing-masing Rp 4 dan Rp 3 per MB.

Analis Sinarmas Sekuritas Evan Lie menilai, industri telekomunikasi di Indonesia masih punya prospek menguntungkan, dengan bisnis data yang akan terus memberikan pertumbuhan kuat pada tahun-tahun mendatang.

“Ini seiring dengan cepatnya penetrasi smartphone dan berkembangnya smartphone murah di pasar,” kata dia.

2017, Pendapatan Lippo Karawaci Bisa Tumbuh 20%

in Berita Saham by

TANGERANG – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) optimistis pendapatan tahun depan tumbuh sebesar 20%, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi 2016 yang sebesar 13%. Pertumbuhan bahkan bisa lebih tinggi, jika perseroan merealisasikan penjualan mal sebagai bagian dari program asset light.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan, dengan asset light berupa penjualan satu mal di Yogyakarta, pendapatan perseroan pada 2017 diproyeksikan tumbuh sebesar 24%. Sedangkan dengan penjualan satu mal di Bali, pertumbuhan pendapatan tahun ini bisa mencapai 22%.

CEO Lippo Homes Chan Chee Meng (kanan) didampingi oleh CMO Lippo Homes Jopy Rusli (kiri) dan VP Head Of Corporate Communication Lippo Karawaci Danang Kemayan Jati (tengah) memaparkan tentang Apartemen Urban Homes yang mengusung konsep strategis baru dari Lippo Homes, Marketing Galeri Kemang Village, Jakarta, Kamis 20 Oktober 2016.
CEO Lippo Homes Chan Chee Meng (kanan) didampingi oleh CMO Lippo Homes Jopy Rusli (kiri) dan VP Head Of Corporate Communication Lippo Karawaci Danang Kemayan Jati (tengah) memaparkan tentang Apartemen Urban Homes yang mengusung konsep strategis baru dari Lippo Homes, Marketing Galeri Kemang Village, Jakarta, Kamis 20 Oktober 2016.

“Kami sedang dalam proses akhir untuk menjual satu mal di Bali. Kalau itu terealisasi sebelum tutup tahun, bakal ada tambahan pendapatan sebesar Rp 760 miliar. Sebab, penjualan mal dianggap seperti kami menjual rumah atau apartemen atau produk properti lainnya,” kata Ketut Budi Wijaya kepada Investor Daily di Tangerang, Banten, baru-baru ini.

Ketut menjelaskan, mal tersebut dijual kepada Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT). Asset light tersebut menjadi salah satu kunci pertumbuhan perseroan pada 2016 dan 2017. Lippo Karawaci juga masih memiliki satu mal yang belum diproses untuk dijual, yang merupakan mal terbesar di Jakarta Barat.

“Tahun ini, secara overall, pasar properti masih menurun. Tapi, kami masih bisa jualan mal. Satu mal setara dua-tiga tower. Ini membuktikan bahwa bisnis Lippo Karawaci mempunyai daya tahan yang tinggi,” ujar dia.

Terobosan
Lebih lanjut Ketut menjelaskan, program asset light tergolong bisnis yang sustainable. Saat ini, belum ada perusahaan properti lain yang melakukan hal serupa, hanya Lippo Karawaci.

“Kalau perusahaan lain kan tidak dijual, sehingga neraca menjadi gemuk, karena asetnya dikumpulin terus. Biasanya, kalau tidak nambah modal, utangnya yang nambah. Itu yang kami ingin hindari,” tutur dia.

Selain asset light, Lippo Karawaci menyiapkan sejumlah terobosan yang tak kalah penting untuk meningkatkan kinerja tahun depan. Salah satunya adalah mengembangkan produk properti middle-low, dengan brand Urban Homes.

Perseroan berencana meluncurkan 5.000-10.000 unit Urban Homes per tahun untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Harga per unit di bawah Rp 500 juta. “Produk-produk ini memiliki daya tahan terhadap siklus penurunan pasar properti. Pembelinya tetap ada, mengingat backlog(kekurangan pasokan rumah) yang disebut pemerintah ada sekitar 11 juta,” ujar Ketut.

Perseroan akan membangun Urban Homes di lahan yang sudah ada. Lahan-lahan itu tersedia di kawasan Lippo Karawaci, Lippo Cikarang, dan tempat-tempat lain. Dengan demikian, perseroan tidak memerlukan belanja modal (capital expenditure/capex) yang relatif besar.

Saat ini, total cadangan lahan (land bank) perseroan seluas 1.300 hektare (ha). Sebagian besar lahan sudah dilengkapi infrastruktur. Dengan demikian, lahan tersebut siap dibangun.

Proyek Urban Homes ini juga memiliki fleksibilitas. Lokasinya tidak perlu di prime location, namun yang terpenting sudah dilengkapi infrastruktur, akses transportasi, tempat belanja, dan lain-lainnya.

Urban Homes menyasar konsumen yang masih lajang dan keluarga kecil. Sebab, menurut data statistik, sebanyak 60% penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Jadi, potensi pasarnya sangat besar. Lippo Karawaci pun tengah menjajaki mencari partner agar pembangunan proyek bisa lebih cepat.

Rumah Sakit Baru
Selain membangun Urban Homes, Lippo Karawaci melakukan terobosan lain dengan membangun rumah sakit (RS) baru. Anak usaha perseroan, yaitu PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), telah merampungkan pembangunan tiga RS dan saat ini masih menunggu izin operasional. Diharapkan, tiga RS yang berlokasi di Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi itu bisa beroperasi pada 2017.

“Sudah pasti yang tiga ini siap masuk pada 2017. Selain itu, ada 16 rumah sakit lagi yang sedang dalam pembangunan. Itu semua targetnya tahun depan. Kalau sekarang, sudah ada 23 rumah sakit, lalu ditambah tiga, dan nanti ada tambahan 16, berarti totalnya bisa mencapai 42 rumah sakit,” ungkap Ketut.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dari 23 RS yang ada saat ini, sebanyak 16 di antaranya adalahprovider BPJS. Sisanya dalam proses.

“Ini penting, karena tidak semua rumah sakit menerima pasien BPJS. Jadi, perseroan akan banyak membangun rumah sakit bertipe C di kota tier 2 dan 3. Saya rasa ini bukan komersial semata, tapi sosial juga,” kata dia.

Secara bisnis, rumah sakit juga menjadi mesin pertumbuhan yang kuat bagi pertumbuhan pendapatan Lippo Karawaci secara organik. Hal itu tercermin dari laporan keuangan hingga kuartal III-2016. Bisnis rumah sakit tumbuh 27%.

Direktur Lippo Karawaci Peter Lembong menambahkan, bisnis rumah sakit merupakan bagian dari pendapatan berkesinambungan (recurring income). Kontribusi rumah sakit paling besar dibandingkan recurring income lainnya, seperti mal, hotel, dan manajemen aset.

“Nah, recurring income ini tumbuh 26%. Kontribusi recurring income terhadap total pendapatan perusahaan sangat besar, mencapai 68%,” ucap Peter.

Adapun pendapatan komersial perseroan dari mal dan hotel hingga kuartal III-2016 tumbuh 22%, sedangkan pendapatan dari divisi manajemen aset naik 22%. “Itu menunjukkan, meski pasar properti tahun ini sedang lesu, tapi kami punya pendapatan recurring yang tetap baik. Makanya, total pendapatan hingga kuartal III-2016 bisa tumbuh 10%,” ujar dia.

Pendapatan Lippo Karawaci Januari-September 2016 mencapai Rp 7,4 triliun. Adapun laba kotor sebesar Rp 3,3 triliun atau naik 2% dibandingkan periode sama tahun lalu. Laba bersih tumbuh menjadi Rp 665 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 66 miliar.

Capex
Tahun ini, perseroan mengalokasikan capex (committed) atau dana yang diperoleh dari pre-sales untuk pembangunan sebesar Rp 2 triliun. Sedangkan uncommitted capex sebesar Rp 800 miliar.

“Pada 2017, capex yang committed, dari konsumen, sebesar Rp 1,8 triliun. Yang uncommittedRp 1,6 triliun. Dari Rp 1,6 triliun itu, sebesar Rp 1,3 triliun di antaranya untuk membangun rumah sakit, yakni yang 16 rumah sakit itu. Sumber dananya sebagian besar dari rights issue Siloam,” papar Peter.

Ketut Budi Wijaya menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Lippo Karawaci berhasil masuk dalam 50 besar penerima penghargaan Good Corporate Governance Award 2016, yang diselenggarakan oleh Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD).

Penerimaan penghargaan tersebut merupakan wujud nyata bahwa Lippo Karawaci melaksanakan parameter-parameter yang mencerminkan GCG yang berkualitas. Good Corporate Governance Award 2016 melibatkan 100 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar terbesar per 30 April 2016. “Banyak perusahaan besar yang tidak masuk. Jadi, jika Lippo Karawaci masuk, ini sebuah prestasi,” ujar Ketut.

Properti akan Membaik
Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan, salah satu faktor yang akan mendongkrak kinerja Lippo Karawaci adalah recurring income. Selain itu, potensi membaiknya sektor properti secara umum turut memberikan dampak positif terhadap kinerja perseroan.

“Sudah banyak stimulus pemerintah di sektor properti. Misalnya pelonggaran rasio loan to value(LTV), potensi aliran dana repatriasi dari program amnesti pajak, serta penurunan suku bunga acuan,” kata dia.

Dia memprediksi, pemulihan pasar properti akan terasa pada awal semester II-2017. Saham LPKR pun diperkirakan masih mampu bergerak naik ke kisaran Rp 1.100-1.200 tahun depan. Pada Jumat lalu, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, harga saham ini sebesar Rp 785 per unit.

Secara terpisah, analis Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe mengatakan, target kinerja yang dipatok Lippo Karawaci terbilang tinggi, namun bisa dicapai dengan strategi manajemen perseroan yang baik. Strategi perputaran investasi dari kedua REITS perseroan di Singapura juga menjadi keunggulan perseroan.

Recurring income dari rumah sakit Siloam serta mal juga dapat terus diandalkan. Sementara itu, penjualan properti prospeknya cukup baik, seperti apartemen di kawasan industri Lippo Cikarang,” tutur dia.

Menurut Kiswoyo, jika investasi asing pada industri manufaktur di Lippo Cikarang meningkat, maka akan diikuti oleh permintaan apartemen oleh para ekspatriat. Dia menargetkan harga saham LPKR sebesar Rp 850 pada akhir tahun ini dan berpeluang mencapai harga wajar Rp 1.100 pada 2017. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, LPKR berada pada posisi Rp 785.

Adhi Bakal Garap Bisnis Penjernihan Air

in Berita Saham by

Jakarta – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) bakal ekspansi proyek penjernihan air bersih tahun depan. Perseroan tengah mencari mitra untuk proyek yang membutuhkan ekuitas awal sebesar Rp 4 triliun tersebut.

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto mengatakan, perseroan tertarik memasuki bisnis penjernihan air karena tidak banyak perusahaan yang masuk pada industri tersebut. Nantinya bakal terdapat beberapa lokasi penjernihan air, di antaranya adalah wilayah DKI Jakarta dan Tangerang Selatan. “Ekuitas sekitar Rp 4 triliun, nanti kami mungkin akan ada pinjaman,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Untuk tahap awal, perseroan bakal menyiapkan dana sebesar Rp 2 triliun untuk belanja modal (capital expenditure/ capex) tahun depan. Perseroan akan mengalokasikan sebagian besar capex untuk proyek pengembangan penjernihan air.

Sementara itu, Adhi Karya menargetkan meraup dana sebesar Rp 3,5 triliun dari aksi penjualan saham anak usaha tahun depan. Perseroan menargetkan dana sebesar Rp 1,5 triliun dari melepas saham PT Adhi Persada Gedung (APG) melalui proses penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham dan penjualan saham preferen anak usaha APG ke sejumlah investor sebesar Rp 2 triliun.

Direktur Keuangan Adhi Karya Harris Gunawan mengatakan bahwa perseroan membutuhkan dana cukup besar tahun depan. Oleh sebab itu Adhi Karya perlu memperbesar ekuitas untuk memperlebar ruang memperoleh pinjaman perbankan. “Tahun depan kami targetkan ruang untuk pinjaman menjadi sebesar Rp 24 triliun,” ujar Harris.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ekuitas perseroan saat ini sekitar Rp 5,4 triliun. Rata-rata governance perusahaan konstruksi dalam batas ruang pinjaman berdasarkan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/ DER) sebesar 3 kali. Sehingga dengan besaran ekuitas saat ini ruang pinjamannya sekitar Rp 15 triliun.

Menurut Harris, perseroan berniat melepas 35% saham dari modal disetor APG. Seluruh saham yang diterbitkan perseroan merupakan saham baru. Adhi Karya belum menunjuk perusahaan efek sebagai penjamin emisi (underwriter) aksi IPO saham. Namun, dia menyebutkan bahwa hanya akan ada satu perusahaan efek yang menjadi underwriter.

Sementara itu, perseroan akan menawarkan saham preferen anak usaha APG kepada investor strategis. Dia menargetkan investor strategis berasal dari industri dana pensiun (Dapen). “Kami harapkan bakal ada maksimal lima Dapen yang menjadi investor,” tuturnya.

Nantinya perseroan akan memberikan batas waktu kepemilikan saham preferen investor selama tiga tahun. APG memiliki opsi put atau membeli kembali (buy back) saham preferen tersebut. Harris menjelaskan, strategi financing dengan menjual saham preferen dilakukan untuk menalangi kebutuhan dana proyek pembangunan transit oriented development (TOD) light rail transit (LRT).

Perseroan membutuhkan dana tersebut sembari menunggu penandatanganan kontrak LRT pemerintah. Setelah perseroan mendapatkan dana dari pemerintah, Adhi Karya akan memberikan bagian APG, kemudian APG akan membeli kembali saham Preferennya.

Saham preferen merupakan saham istimewa yang diterbitkan perusahaan. Pemilik saham tersebut bakal mendapatkan dividen sesuai dengan perjanjian saat membeli saham. Saham preferen tidak memiliki hak untuk mengelola perusahaan. “Seperti menerbitkan obligasi, cuma ini dalam bentuk saham,” ungkapnya.

Sebelum melaksanakan IPO saham dan menjual saham preferen, Adhi Karya akan menyuntik modal APG terlebih dahulu sebesar Rp 500 miliar, sehingga modal disetor APG menjadi sebesar Rp 800 miliar.

Adhi Karya membidik kontrak baru baru sebesar Rp 44 triliun pada 2017. Perseroan menargetkan kontrak non-LRT sebesar Rp 21 triliun dan kontrak LRT sebesar Rp 23 triliun.

Direktur Utama Adhi Karya Budi Harto, total kontrak untuk di tahun depan banyak didapatkan dari proyek di luar Jawa. Beberapa tender yang bakal diikuti peseroan adalah proyek kilang minyak Balikpapan, pelabuhan yang cukup besar di Kalimantan Barat (Kalbar) sebesar Rp7 triliun, bandar udara (Bandara) di Banjarmasin dan proyek pelabuhan di Subang, Jawa Barat.

Adhi Karya menargetkan pendapatan tahun depan sebesar Rp 14,5 triliun dan laba bersih sebesar Rp 550 miliar. Perseroan bakal menyiapkan belanja modal (capital expenditure/ capex) tahun depan sebesar Rp 2 triliun.

Go to Top