Tag archive

Suku Bunga

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 9 Bulan: Donald Trump

in Berita Saham by

Jakarta – Bank Indonesia (BI) pada rapat dewan gubernur bulanan menahan suku bunga acuan BI 7 days Repo Rate di level 4,75%. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, terus mewaspadai perkembangan di dunia seperti kenaikan Fed Fund Rate.

Posisi suku bunga acuan memang tak bergerak sejak Oktober 2016 ata

Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan Selama 9 Bulan: Donald Trump
Foto: Sylke Febrina Laucereno

u selama 9 bulan. BI menahan laju penurunan suku bunga sejak Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Kebijakan Donald Trump yang agresif harus diimbangi oleh kebijakan moneter yang dipegang oleh Bank Sentral. Makanya suku bunga acuan AS naik lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Baru saja beberapa hari lalu dinaikkan sebesar 25 basis point.

“Fed Fund Rate masih akan naik mungkin September atau Desember, lalu 2018 juga masih ada. Yang jadi perhatian kami, ini juga semakin positif meski dia juga akan menurunkan balance sheet-nya,” kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Dia mengungkapkan, selain itu kondisi global di Eropa yang harus diwaspadai adalah perkembangan Italia yang perbankannya mengalami kondisi yang tidak terlalu baik. Kemudian Inggris dengan kekacauan pada pemilihan umumnya.

Perbaikan kondisi ekonomi dunia, kata Agus hanya terlihat dari sisi harga komoditas yang pengaruhnya cukup signifikan terhadap Indonesia.

“Ini akan terus kami waspadai, dengan suku bunga yang tetap, kami konsisten jaga stabilitas makro ekonomi Indonesia dan sistem keuangan serta mendorong pemulihan ekonomi,” ujar dia.

Sementara dari sisi investasi nasional sudah menggembirakan, yang tadinya didominasi oleh pemerintah dengan pembangunan infrastrukturnya, swasta juga turut menyumbang investasi. “Bahkan investasi non bangunan pun sudah mulai naik khususnya sektor konstruksi,” imbuh Agus.

Seiring meningkatnya investasi, pertumbuhan ekonomi semester II 2017 diproyeksi akan mengalami perbaikan. Selain itu konsolidasi perbankan dan konsolidasi korporasi masih terus berjalan. BI mengharapkan konsolidasi bisa selesai dan pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan maksimal.

Agus menjelaskan tingkat inflasi nasional masih menunjukan kondisi yang baik. Padahal, BI sebelumnya memperkirakan 4,63% namun kenyataanya pada Mei 4,36%. BI meyakini inflasi dalam kedaan aman karena pasokan barang di seluruh Indonesia terjaga. Untuk Ramadan dan Lebaran diprediksi inflasi akan terjaga.

“Kami hargai upaya yang dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah untuk menjaga inflasi,” ujarnya.

Sumber : https://finance.detik.com/moneter/d-3533089/alasan-bi-tahan-suku-bunga-acuan-selama-9-bulan-donald-trump

BI 7-Day Reverse Repo Rate Tetap 4,75% Menjaga Stabilitas dan Mendorong Keberlanjutan Pemulihan Ekonom

in Berita Saham by

​​(21 April 2017 ), Jakarta

No. 19/ 29 /DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 dan 20 April 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%, berlaku efektif sejak 21 April 2017. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik. Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang berasal dari global maupun domestik. Dari sisi global, terdapat indikasi perbaikan prospek perekonomian negara maju, namun sejumlah risiko tetap perlu dicermati terutama wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan faktor geopolitik. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi dan masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan yang menyebabkan belum optimalnya dampak stimulus perekonomian. Untuk itu, Bank Indonesia terus berupaya memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank Indonesia juga akan melanjutkan koordinasi bersama Pemerintah dalam rangka pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan mendorong kelanjutan reformasi struktural untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.Image result for Bank indonesia

Prospek pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan terus membaik meskipun masih terdapat risiko yang perlu dicermati. Prospek ekonomi dunia yang meningkat antara lain ditopang oleh ekonomi AS yang terus menguat disertai dengan membaiknya ekonomi Eropa dan Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi AS semakin solid didukung oleh konsumsi sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan yang positif dan investasi yang membaik terutama di sektor energi seiring dengan kenaikan harga minyak. Perekonomian Eropa berpotensi meningkat ditopang perbaikan konsumsi dan ekspor. Perekonomian Tiongkok diperkirakan tetap kuat didukung oleh konsumsi dan investasi, khususnya infrastruktur. Meskipun harga komoditas dunia termasuk minyak diperkirakan tetap tinggi, perkembangan inflasi global diperkirakan tetap terkendali. Ke depan, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai antara lain wacana penurunan besaran neraca bank sentral AS dan dampaknya terhadap pasar keuangan global, kelanjutan kenaikan suku bunga di AS serta perkembangan geopolitik terkini di beberapa kawasan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2017 diperkirakan tetap baik meskipun di bawah perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama dipengaruhi oleh investasi yang membaik dan kinerja ekspor yang tetap positif. Investasi pada triwulan I 2017 yang membaik didukung oleh investasi bangunan dan nonbangunan. Perbaikan investasi nonbangunan didukung oleh kenaikan harga komoditas seperti terlihat pada penjualan alat berat untuk pertambangan dan perkebunan yang meningkat. Kenaikan harga komoditas juga mendorong kinerja ekspor yang tumbuh positif. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2017 berpotensi sedikit melambat tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran dan motor yang menurun, dipengaruhi oleh proses konsolidasi korporasi yang masih berlanjut. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat pada triwulan II 2017 ditopang oleh perbaikan investasi dan ekspor, sedangkan konsumsi diperkirakan relatif stabil. Sementara itu, membaiknya harga komoditas dan menguatnya permintaan terkait pemulihan ekonomi gobal diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja ekspor dan investasi. Ke depan, peran stimulus fiskal diharapkan dapat tetap terjaga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus 1,23 miliar dolar AS pada Maret 2017, terutama didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Perkembangan surplus neraca perdagangan barang Indonesia triwulan I 2017 mencapai 3,93 miliar dolar AS, lebih dari dua kali surplus pada periode yang sama tahun 2016 yang sebesar 1,66 miliar dolar AS. Sementara itu, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia triwulan I 2017 telah mencapai 5,33 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2017 tercatat sebesar 121,8 miliar dolar AS, atau setara 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Nilai tukar rupiah bergerak menguat pada Maret 2017 ditopang stabilitas makroekonomi yang terjaga dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian Indonesia serta risiko global yang berkurang. Selama triwulan I 2017, rupiah mengalami apresiasi sebesar 1,09% (ytd) menjadi Rp13.326 per dolar AS. Penguatan rupiah didukung oleh aliran modal asing yang terus meningkat sejalan dengan prospek investasi pada aset domestik yang menarik bagi investor asing serta membaiknya faktor global. Aliran dana asing yang masuk tersebut terutama dalam bentuk pembelian saham dan Surat Utang Negara. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk mendorong nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Maret 2017 mencatat deflasi seiring dengan pasokan bahan makanan yang meningkat. IHK mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm), menurun dari inflasi sebesar 0,23% (mtm) pada bulan sebelumnya. Deflasi IHK terutama disumbang oleh komponen bahan makanan bergejolak (volatile food) seiring dengan melimpahnya pasokan terkait panen beberapa komoditas pangan. Selain itu, terkendalinya harga didukung oleh inflasi inti yang tercatat sebesar 0,10% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 0,37% (mtm). Inflasi administered prices menurun terutama akibat deflasi tarif angkutan udara yang dapat mengurangi dampak kenaikan tarif listrik. Ke depan, untuk menjaga sasaran inflasi 4±1% dapat tercapai, koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi perlu terus diperkuat terutama dalam menghadapi sejumlah risiko terkait penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah, dan risiko kenaikan harga volatile food menjelang bulan puasa.

Stabilitas sistem keuangan tetap solid didukung oleh ketahanan industri perbankan dan stabilitas pasar keuangan yang terjaga. Pada Februari 2017, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat sebesar 23,0%, dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 22,2%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 3,2% (gross) atau 1,4% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial masih tetap berlanjut, namun semakin terbatas sejalan dengan kehati-hatian bank dalam mengelola risiko kredit. Berdasarkan jenis kreditnya, suku bunga kredit modal kerja mengalami penurunan terbesar (113 bps, yoy), diikuti suku bunga kredit investasi (83 bps, yoy) dan suku bunga kredit konsumsi (37 bps, yoy). Pertumbuhan kredit Februari 2017 tercatat sebesar 8,6% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 8,3% (yoy). Pertumbuhan kredit masih terbatas akibat masih berlanjutnya proses konsolidasi korporasi dan perbankan. Selanjutnya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2017 tercatat sebesar 9,2% (yoy), menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 10,0% (yoy). Di sisi lain, pembiayaan ekonomi non bank melalui pasar modal, seperti penerbitan saham (IPO dan right issue), obligasi korporasi, dan medium term notes (MTN) terus mengalami peningkatan. Sejalan dengan perkiraan meningkatnya aktivitas ekonomi dan masih berlanjutnya dampak pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya, pertumbuhan kredit dan DPK pada tahun 2017 diperkirakan lebih tinggi, masing-masing berada dalam kisaran 10-12% dan 9-11%.

Jakarta, 20 April 2017
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

Sumber : http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_192917.aspx

Menko Perekonomian tak khawatir suku bunga Fed naik

in Berita Saham by

 

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak khawatir apabila suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) diputuskan naik pada Maret dan berdampak ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

” Itu juga sebabnya kurs kita tidak melemah terus, malah ada naiknya. Mungkin `next-nya` malah menguat sedikit “.

“Ada lah dampaknya, tapi ya tidak besar. Selama ini semua perekonomian itu sudah mengantisipasi bahwa itu akan terjadi dan sudah di-price in (disesuaikan) itu istilah ekonominya. Ada ya naik beberapa hari, seminggu, habis itu ya tenang lagi,” ujar Darmin saat ditemui di Kantor Menko, Senin.

Darmin menilai sejauh ini tidak ada penguatan yang signifikan dari dolar terhadap nilai tukar rupiah. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin mencapai Rp13.364 per dolar AS, menguat dibandingkan hari sebelumnya Rp13.375 per dolar AS.

“Coba lihat dolar ya tidak terus menguat kan selama ini. Ya menguat melemah lagi. Rupiah kita (per dolar AS) Rp13.345 sampai Rp13.350. Jadi jangan dianggap ini akan ada perubahan besar,” katanya.

Ia menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini juga relatif baik dan neraca pembayarannya juga positif. Hal tersebut dinilai membantu mengatasi tekanan terhadap rupiah dari faktor eksternal.

“Itu juga sebabnya kurs kita tidak melemah terus, malah ada naiknya. Mungkin next-nya malah menguat sedikit,” ujar Darmin.

Pada 14-15 Maret 2017, akan digelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Apabila data ekonomi AS membaik, sejumlah pihak menilai suku bunga The Fed akan naik.

Sebelumnya Gubernur The Fed AS Janet Yellen mengatakan pada pertengahan Februari lalu bahwa Fed akan mempertimbangkan apakah menaikkan suku bunga pada pertemuan-pertemuan yang akan datang.

Dia memberi penilaian positif terhadap ekonomi, mengatakan bahwa ekonomi telah terus membuat kemajuan ke arah lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga.

Ia memperkirakan bahwa perekonomian akan terus tumbuh pada kecepatan moderat, dengan pasar kerja menguat lebih lanjut dan inflasi lebih dekat dengan target Fed dua persen.

Dengan menilai kondisi ekonomi saat ini, The Fed memandang bahwa kenaikan suku bunga bertahap akan sesuai.

http://www.antaranews.com/berita/616327/menko-perekonomian-tak-khawatir-suku-bunga-fed-naik

Ini strategi BI hadapi kenaikan bunga The Fed

in Berita Saham by

kONTAN, JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sudah mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed. Strategi moneter dan fiskal telah dirasa cukup menjelang rapat di The Fed pada 13 dan 14 Desember 2016.Ini strategi BI hadapi kenaikan bunga The Fed

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung memastikan kenaikan suku bunga The Fed telah diantisipasi sejak jauh-jauh hari oleh BI dan sudah diperhitungkan. “Sudah kami antisipasi sebelumnya bahwa Fed Fund Rate naik satu kali di 2016. Jadi bukan suatu kejutan lagi,” kata Juda kepada KONTAN, Selasa (13/12).

Juda mengatakan, amunisi yang dimiliki oleh BI saat ini terdiri dari dua basis pertahanan. “First line of defence adalah cadangan devisa yang lebih baik. Second line of defence berupa bilateral swap agreements (BSA) yang terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Posisi cadangan devisa hingga akhir November 2016 turun US$3,5 miliar menjadi US$111,5 miliar dari posisi di Oktober 2016 sebesar US$115,0 miliar.

BI juga baru saja menandatangani perpanjangan BSA dengan Bank of Japan Senin kemarin sehingga dengan demikian akan ada tambahan amunisi dana sebesar US$ 22.76 miliar.

Adapun sebagai pengingat, Desember tahun lalu, BI telah menandatanganiBilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan Reserve Bank of Australia (RBA) senilai AUS$ 10 miliar atau US$ 7,3 miliar. Sebelumnya pada November 2015, BI dan Tiongkok juga sepakat untuk top-up BCSA dari senilai US$ 15 miliar menjadi US$ 20 miliar.

Sejauh ini, Indonesia telah menandatangani BCSA dengan empat negara, yaitu People’s Bank of China, Bank of Korea, Australia, dan Jepang. Semua BCSA tersebut memiliki selama periode tiga tahun. Nilai BCSA dengan Korea Selatan senilai USD 10 miliar telah ditandatangani pada tahun 2014

Juda menambahkan, dari dana repatriasi yang masuk ke dalam negeri juga akan cukup untuk menopang cadangan devisa. “Akan menambah tentunya terurama bila dikonversi ke dalam aset rupiah,” jelasnya.

Hingga November, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat total jumlah dana repatriasi yang masuk ke dalam negeri dari program amnesti pajak per November 2016 ini mencapai Rp 95 triliun..

 

Saatnya Pangkas Suku Bunga Acuan

in Uncategorized by

JAKARTA — Seluruh ekonom yang disurvei Bisnis pada Rabu (21/9) menilai bulan ini saat yang tepat bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Relaksasi itu diyakini dapat mendorong perekonomian di tengah keterbatasan fiskal.

Bank Indonesia baru saja menerapkan suku bunga acuan baru bernama 7-day Reverse Repo Rate mulai Agustus 2016. Rapat Dewan Gubernur BI bulan lalu memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 5,25%.

Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. David Sumual mengatakan, sisi fundamental memungkinkan adanya ruang pemotongan suku bunga acuan mengingat inflasi terkendali dengan pencapaian 2,79% (year on year/yoy) pada Agustus 2016 dan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 1,74%.

Di sisi lain, dia meyakini penurunan suku bunga acuan bulan ini dapat menstimulus permintaan yang lemah, bahkan pertumbuhan kredit Agustus 2016 berada di kisaran 6% (yoy) atau terendah sejak krisis global pada 2009.

“Ini untuk menstimulasi permintaan dengan menurunkan suku bunga karena ruangnya ada, pemerintah juga harus ada dorongan untuk belanja,” katanya, di Jakarta, Rabu (21/9).

Sementara itu, dari sisi fiskal, diproyeksikan akan ada pelebaran defisit hingga 2,7% bisa memicu permintaan. Menurutnya, jika defisit berkelanjutan karena kebijakan tax amnesty tidak mencapai target, maka diperlukan koordinasi antara BI dengan pemerintah menentukan besaran defisit yang akan ditambah.

Pemerintah setidaknya membutuhkan tambahan pendanaan Rp37 triliun untuk menutup defisit anggaran yang semula 2,5% menjadi 2,7%. Dia berharap koordinasi antara pemerintah dan bank sentral untuk mengantisipasi terjadinya crowding out yang mempenga ruhi investasi.

“September ini sudah ketahuan perlu tambahan defisit lagi berapa, kalau perlu maka buat koordinasi supaya tidak terjadi seperti tahun lalu, likuiditas yang terganggu akan membuat bunga bank meningkat karena likuiditas mengetat,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede. Menurutnya, otoritas moneter perlu berkoordinasi dengan otoritas fiskal mengingat rencana pemerintah untuk menerbitkan tambahan surat utang negara sebesar Rp37 triliun berpotensi menyebab kan kondisi crowding out.

Menurutnya, supaya lebih optimal dalam menjaga momentum pertumbuhan, khususnya men dorong konsumsi masyarakat, diper lukan juga koordinasi kebijakan fiskal yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

“Mengingat masih rendahnya permintaan kredit dan lemahnya daya beli masyarakat, pelonggaran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga momentum pertum buhan di tengah potensi pemangkasan belanja pemerintah,” ucapnya.

Ekonom PT Maybank Indonesia Tbk. Juniman menyatakan relaksasi moneter menjadi instrumen yang tepat untuk membantu pemulihan ekonomi dalam negeri karena saat ini ekonomi global terus mengalami pelemahan.

Dia berpendapat bank sentral tak perlu khawatir terhadap nilai tukar rupiah. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat relatif stabil di akhir Agustus 2016. The Fed bahkan terlihat tidak akan menaikkan suku bunganya pada bulan ini. Hal itu menjadi momentum bagi BI untuk melonggarkan moneter.

“BI enggak usah khawatir terkait rupiah. Katalis dari rupiah juga ada revenue dari tax amnesty. Walau masih jauh dari target pemerintah, dana yang masuk dengan kebijakan tax amnesty dapat berimbas positif pada rupiah,” ujarnya.

Dari sektor perbankan, perlambatan permintaan kredit yang lebih rendah ditambah peforma kredit bermasalah (non performing loan) yang pada Juli 2016 meningkat menjadi 3,32% mengharuskan BI untuk melakukan balancing.

“Artinya harus hatihati menurunkan suku bunganya jangan terlalu drastis. BI mau enggak mau akan mendorong kredit tumbuh,” ucapnya. Juniman memperkirakan posisi BI 7-day Reverse Repo Rate pada level 5% setelah dipangkas 25 basis poin akan bertahan hingga akhir tahun.

sumber : http://koran.bisnis.com/read/20160922/433/586014/saatnya-pangkas-suku-bunga-acuan

PENJELASAN BI 7-day (Reverse) Repo Rate

Mengapa BI memperkenalkan suku bunga acuan BI baru? Hal itu agar suku bunga kebijakan dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan dan sektor riil. Instrumen BI 7-Day Repo Rate sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar keuangan.

Pada masa transisi, BI Rate akan tetap digunakan sebagai acuan bersama dengan BI Repo Rate 7 Hari.

Penguatan kerangka operasi moneter ini merupakan hal yang lazim dilakukan di berbagai bank sentral dan merupakan best practice internasional dalam pelaksanaan operasi moneter. Kerangka operasi moneter senantiasa disempurnakan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan. Khususnya untuk menjaga stabilitas harga.

Penguatan kerangka operasi moneter juga mempertimbangkan kondisi makroekonomi yang kondusif dalam beberapa waktu terakhir, yang memberikan momentun bagi upaya penguatan kerangka operasi moneter.

sumber : http://www.bi.go.id/id/moneter/bi-7day-RR/penjelasan/Contents/Default.aspx

Dorong Ekonomi, BI Diprediksi Pangkas Bunga Acuan Pekan Ini

in Uncategorized by

“BI mungkin akan merasa terpaksa (menurunkan suku bunga acuan) untuk lebih mendukung momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut ke 2017.”

Bank Indonesia (BI) diprediksi bakal memangkas suku bunga acuan, BI 7-Day Repo Rate, melalui Rapat Dewan Gubernur pada pekan ini (21-22 September 2016). Sejumlah ekonom menilai, BI perlu memangkas suku bunga guna memacu pertumbuhan ekonomi di tengah kebijakan pemerintah memangkas belanja.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,25 persen menjadi 5 persen. Pelonggaran moneter tersebut perlu dilakukan untuk memacu penyaluran kredit dan daya beli masyarakat. “Pelonggaran kebijakan moneter diharapkan bisa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah potensi pemangkasan belanja pemerintah,” katanya kepada Katadata, Rabu (21/9).

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit per akhir Juli 2016 sebesar 7,74 persen, atau melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 8,89 persen. Padahal, pertumbuhan kredit perbankan tahun ini ditargetkan sebesar 11-12 persen, itupun sudah lebih rendah dari proyeksi semula sebesar 14 persen.

Josua menilai, pemangkasan suku bunga juga mempertimbangkan perbaikan pada sejumlah indikator ekonomi. Pertama, ekspektasi inflasi yang terkendali. Ia memperkirakan, inflasi berada pada kisaran 3 persen – 3,3 persen di akhir tahun.

Kedua, nilai tukar rupiah yang stabil. Kurs rupiah cenderung stabil di tengah besarnya aliran masuk dana asing (capital inflow). Hal tersebut sebagai imbas dari pelaksanaan pengampunan pajak (tax amnesty) dan kecilnya kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/ The Fed) menaikkan suku bunga dananya bulan ini.

Senada dengan Josua, tim riset DBS Group juga memprediksi BI akan memangkas suku bunga acuan ke level 5 persen. “BI mungkin akan merasa terpaksa melakukan (pemangkasan suku bunga acuan) untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut ke 2017,” kata tim riset DBS Group dalam DBS Group Research yang dilansir awal pekan ini.

Rendahnya inflasi juga dinilai bakal memperbesar peluang pelonggaran moneter. Tim riset DBS menyebut deflasi pada Agustus membuat inflasi tahunan berada di level 2,8 persen. Level inflasi tersebut terendah sejak akhir 2009.

Mereka memprediksi, inflasi bakal berada di level 3,7 persen pada 2016 dan 4,6 persen pada 2017. Prediksi tersebut merevisi target sebelumnya yakni 4,4 persen pada 2016 dan 5,2 persen pada 2017.

Meski data inflasi membuat peluang pemangkasan suku bunga membesar, tim riset DBS Group menilai, keputusan BI masih bisa terpengaruh oleh keputusan rapat The Federal Reserve yang juga digelar pada 20-21 September ini guna memutuskan kebijakan suku bunga dananya.

Keputusan bank sentral Amerika memang jadi tantangan bagi banyak negara termasuk Indonesia. Pada pertengahan 2013 lalu, pernyataan petinggi bank sentral Amerika terkait penarikan stimulus moneter sempat membuat penarikan dana (capital outflow) dari pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan depresiasi kurs rupiah.

Meski begitu, tim riset DBS Group meyakini, kali ini BI lebih siap menghadapi tantangan tersebut. Sebab, cadangan devisa dinilai cukup. “Untuk saat ini, kemungkinan ada cukup amunisi untuk menghadapi tantangan jangka pendek terkait volatilitas pasar,” kata tim riset DBS Group.

Prediksi pemangkasan suku  bunga sudah mencuat sejak bulan lalu. Sejumlah ekonom melihat peluang BI memangkas suku bunga acuannya melalui rapat dewan gubernur BI pertengahan Agustus lalu. Namun, BI memilih menahan suku bunga acuan di level 5,25 persen.

Menanggapi kebijakan BI tersebut, Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menilai, semestinya ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan semakin terbuka seiring dengan tren inflasi yang rendah. Dia menghitung ada ruang pemangkasan suku bunga acuan sekitar 0,5 persen hingga akhir tahun.

Secara detail, dalam hitungan Anton, jika ekspektasi inflasi berada di bawah empat persen sampai akhir tahun ini dengan terjaganya tarif dasar listrik (TDL), akan ada ruang penurunan BI 7-Day Repo Rate sebesar 0,5 persen. Tetapi jika inflasi lebih dari empat persen, ruang pelonggaran moneter hanya sebesar 0,25 persen.

“Terus terang saja, gemes banget. Apa yang menghambat (penurunan suku bunga). Semua risiko itu sudah dihitung, harusnya sudah mulai dipangkas dari bulan lalu, tapi belum juga sampai sekarang. Seharusnya (BI) lebih berani lagi,” ujar Anton.

Dorongan pemangkasan suku bunga acuan juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Menurutnya, peluang Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan makin besar. Hal tersebut seiring dengan data deflasi Agustus 2016.

Mantan Gubernur BI itu mengungkapkan, bank sentral bisa saja menurunkan suku bunga acuan  pertengahan Agustus lalu. Namun hal itu tertunda karena ada perubahan kebijakan suku bunga acuan, dari semula menggunakan BI Rate menjadi BI 7-Day (Reverse) Repo Rate.

Darmin berpendapat BI kemungkinan masih mempertimbangkan buruknya kondisi ekonomi global. “Memang ekonomi dunia jelek sehingga semuanya masih saling melihat, saling menunggu,” kata dia.

The Fed Batal Naikkan Bunga, Rupiah dan IHSG Kompak Menguat

in Uncategorized by

The Fed Batal Naikkan Bunga, Rupiah dan IHSG Kompak Menguat

Detik.com

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 39 poin berkat maraknya aksi beli. Aksi beli ini didorong batalnya The Fed menaikkan suku bunga acuan.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini menguat. Dolar AS berada di posisi Rp 13.066 dibandingkan posisi kemarin sore Rp 13.134.

Pada perdagangan preopening, IHSG menguat 39,729 poin (0,74%) ke level 5.382,321. Sedangkan Indeks LQ45 naik 10,000 poin (1,09%) ke level 931,339.

Membuka perdagangan, Kamis (22/9/2016), IHSG melaju 52,221 poin (0,98%) ke level 5.394,813. Indeks LQ45 bertambah 12,115 poin (1,31%) ke level 933,454.

Seluruh indeks sektoral menguat pagi ini. Rata-rata penguatannya hingga lebih dari satu persen.

Hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG menanjak 57,978 poin (1,09%) ke level 5.400,570. Sementara Indeks LQ45 tumbuh 11,958 poin (1,30%) ke level 933,297.

Kemarin IHSG ditutup menguat setelah di sesi I terus berada di zona merah. Sentimen positif datang dari bursa Asia.

Semalam Wall Street ditutup naik 1% lebih setelah The Fed memutuskan menahan tingkat suku bunga acuannya. Ini sesuai harapan pelaku pasar saham.

Bursa-bursa regional pun menyambut positif langkah The Fed ini dengan kompak menguat. Pasar saham Jepang hari ini tutup menyambut Autumnal Equinox Day.

Pergerakan bursa-bursa di Asia pagi hari ini:

  • Indeks Hang Seng melonjak 275,12 poin (1,16%) ke level 23.945,02.
  • Indeks Komposit Shanghai menguat 18,05 poin (0,60%) ke level 3.043,93.
  • Indeks Straits Times naik 18,38 poin (0,64%) ke level 2.869,12.

The Fed Diperkirakan Pangkas Proyeksi Kenaikan Suku Bunga AS

in Uncategorized by

Metrotvnews.com, New York: Para pembuat kebijakan di Federal Reserve atau the Fed diperkirakan pada pekan ini untuk kembali memangkas proyeksi mengenai tingginya kenaikan tingkat suku bunga. Sebab, hal itu membutuhkan output dari perekonomian, produktivitas, dan gerak inflasi yang tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan dekade terakhir.

Ini akan menjadi kali keempat dalam 15 bulan bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) telah dipaksa untuk mengakui bahwa tingkat estimasi kenaikan berada pada tingkat normal dan terlalu optimistis, yang memunculkan pertanyaan tentang kesehatan ekonomi di masa-masa mendatang.

The Fed Diperkirakan Pangkas Proyeksi Kenaikan Suku Bunga AS
Gedung The Fed (REUTERS/Kevin Lamarque)

Saat ini, the Fed masih bersikeras menetapkan tingkat suku bunga di level rendah dan neraca keuangan yang besar atas obligasi berkelanjutan yang diharapkan bisa mendorong perekonomian. Beberapa pejabat the Fed menyarankan untuk memotong prediksi atas kenaikan suku bunga jangka panjang pada minggu ini di pertemuan kebijakan moneter.

Menurut jajak pendapat yang diselenggarakan Reuters kepada para ekonom menunjukkan bahwa the Fed diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada pertemuan 20-21 September. Adapun kondisi itu terjadi dengan melihat situasi dan kondisi ekonomi terkini.

Pengurangan ekspektasi kenaikan suku bunga diharapkan terjadi. Semakin rendah perkiraan tersebut terkait pengetatan kebijakan maka kian membenarkan keputusan yang sudah terjadi berulang-ulang mengenai penundaan kenaikan tingkat suku bunga.

“Mereka (the Fed) tidak jauh dari mode pengetatan. Itu untuk kesabaran lebih besar karena risiko jatuh dengan tingkat inflasi yang lebih rendah dan tidak menjadi ambil bagian untuk kenaikan tingkat suku bunga,” kata Founder of Macro Insight Group and a Former Senior Analyst at the New York Fed Shehriyar Antia, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/9/2016).

The Fed sampai sekarang ini belum menaikkan tingkat suku bunga. Namun, tidak ditampik ada sinyal kenaikan suku bunga pada Desember di 2016 ini. Akan tetapi, pembuat kebijakan the Fed menyatakan penuaan populasi AS dan penurunan pertumbuhan produktivitas telah menguras potensi ekonomi dan membuat kekhawatiran atas kenaikan suku bunga terlalu cepat.

Go to Top